Makassar, BeritaTKP.com – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) turun langsung menelusuri kasus tewasnya remaja bernama Bertrand Eka Prasetyo (18) yang tertembak senjata api milik anggota Polrestabes Makassar, Iptu Nasrullah. Penelusuran dilakukan dengan mendatangi lokasi kejadian serta memeriksa sejumlah rekaman CCTV di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).

Komisioner Kompolnas Choirul Anam mengatakan pihaknya datang ke Makassar untuk memastikan secara langsung kronologi peristiwa yang terjadi di Jalan Toddopuli, Kecamatan Panakkukang.

“Kami datang untuk mengecek langsung apa yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa di Panakkukang,” kata Choirul Anam di Mapolda Sulawesi Selatan, Kamis (5/3/2026).

Dalam proses penelusuran tersebut, Kompolnas tidak hanya meninjau lokasi kejadian dan memeriksa rekaman CCTV, tetapi juga menemui keluarga korban untuk meminta keterangan. Informasi dari keluarga dan masyarakat kemudian dicocokkan dengan bukti visual serta kondisi di lapangan.

“Kami mencocokkan rekaman CCTV dengan kondisi TKP dan berbagai keterangan yang kami peroleh. Kami juga meminta informasi dari masyarakat mengenai apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.

Selain itu, Kompolnas juga telah bertemu dengan Iptu Nasrullah yang saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka juga meminta penjelasan dari dokter yang melakukan autopsi terhadap jenazah korban.

“Kami juga mengecek langsung ke Kapolrestabes, Dirkrimum, dan Kabid Propam terkait langkah yang sudah dilakukan, baik dalam konteks penegakan etik maupun proses pidana,” kata Choirul.

Meski demikian, Kompolnas mengapresiasi langkah cepat Polda Sulawesi Selatan dan Polrestabes Makassar yang segera melakukan proses hukum terhadap anggota polisi yang terlibat hingga menetapkannya sebagai tersangka.

Kompolnas juga menyoroti rekaman CCTV yang beredar di media sosial. Menurut Choirul, video yang beredar tidak menunjukkan keseluruhan peristiwa karena hanya menampilkan sebagian sudut pandang.

“Kami juga melihat rekaman CCTV dari sudut lain yang jauh lebih jelas. Kami cek langsung di TKP dan di lingkungan sekitar. Memang benar ada aktivitas anak-anak remaja di lokasi yang terekam cukup jelas,” ujarnya.

Dalam rekaman tersebut terlihat adanya aksi saling menembakkan senapan mainan berpeluru jelly atau senapan omega di lokasi kejadian. Namun Choirul menegaskan bahwa terdapat sejumlah detail dalam rekaman yang belum dapat disampaikan kepada publik karena masih menjadi bagian dari proses penyelidikan.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam rekaman video terlihat dua kali letusan senjata api. Tembakan pertama disebut sebagai tembakan peringatan yang dilepaskan oleh Iptu Nasrullah.

Sementara pada tembakan kedua, posisi tangan dan tubuh penembak menjadi faktor penting untuk menentukan apakah peristiwa tersebut terjadi secara sengaja atau tidak.

“Video itu tidak bisa dimanipulasi. Kami juga mengonfirmasi dengan berbagai informasi dari pihak lain. Posisi tangan dan tubuh saat menembak sangat menentukan apakah itu disengaja atau tidak,” jelasnya.

Choirul menegaskan bahwa rekaman CCTV menjadi bukti penting untuk mengungkap secara jelas peristiwa tersebut.

“Dengan adanya video itu, peristiwanya sebenarnya cukup jelas. Jadi proses untuk melihat dan memahami kejadian ini tidak terlalu sulit,” ujarnya.

Berdasarkan rekaman yang diperiksa Kompolnas, tidak terlihat adanya tindakan membidik secara langsung ke arah korban. Artinya, tembakan tersebut tidak secara spesifik diarahkan ke satu objek atau individu.

“Kalau membidik biasanya jelas mengarah ke satu objek atau subjek tertentu. Di rekaman itu tidak terlihat seperti itu,” katanya.

Terkait kondisi tubuh korban, Choirul juga menyampaikan bahwa berdasarkan hasil autopsi tidak ditemukan luka memar selain luka tembak yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Ia menjelaskan bahwa perubahan warna pada tubuh jenazah yang terlihat dalam foto merupakan lebam mayat, yaitu proses alami yang terjadi setelah seseorang meninggal dunia.

“Kami sudah membandingkan foto sebelum dan sesudah autopsi serta mendapatkan penjelasan dari dokter yang melakukan autopsi. Tidak ada luka memar maupun luka lain. Luka yang ada hanya akibat tembakan tersebut,” katanya.

Kompolnas menegaskan akan terus mengawal proses penegakan hukum dalam kasus ini agar berjalan secara transparan dan adil.

“Ayo kita jaga bersama-sama proses ini agar berjalan dengan baik. Harapan keluarga korban tentu penegakan hukumnya bisa berjalan dengan semestinya,” pungkasnya.(æ/red)