LAMPUNG, BeritaTKP.com – Video yang memperlihatkan tim patroli Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung dihujani abu vulkanik saat berada di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK) viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, semburan abu berwarna kelabu tampak membumbung ke langit, sementara kapal patroli yang digunakan petugas turut tertutup abu.

Peristiwa itu terjadi ketika tim BKSDA Lampung sedang melaksanakan patroli rutin pada Senin (26/10/2026). Suara gemuruh yang terdengar dari arah gunung sempat membuat petugas panik.

Kepala Seksi Wilayah III BKSDA Lampung, Itno Itoyo, membenarkan bahwa personel yang terlihat dalam video merupakan anggota timnya yang sedang bertugas.

“Iya, kemarin dari kami itu, dari tim kami yang memantau di lapangan,” kata Itno, Selasa (27/10/2026).

Meski demikian, Itno menegaskan bahwa penjelasan teknis mengenai aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau bukan menjadi kewenangan pihaknya.

Petugas Diminta Meningkatkan Kewaspadaan

Itno mengatakan, personel yang berada di lokasi tidak mengalami dampak serius. Namun, mereka sempat merasakan ketegangan saat mendengar suara gemuruh dari arah gunung.

“Iya, gemuruh. Jadi mereka merasakan kengerian itu aja, yang dirasakan teman-teman kemarin tuh,” ungkapnya.

Ia mengingatkan seluruh personel yang melakukan patroli di sekitar kawasan tersebut agar selalu berhati-hati dan memperhatikan perkembangan situasi.

Jika aktivitas gunung dirasakan semakin intens, petugas diminta segera mendekat ke pos untuk mengantisipasi kemungkinan bahaya.

“Saya meminta untuk tim yang melakukan patroli senantiasa berhati-hati. Kalau memang dirasakan perkembangannya semakin intens, ya, merapat ke pos-pos, untuk berjaga-jaga,” tegas Itno.

Aktivitas Erupsi Disebut Tidak Terdeteksi Alat Pengamatan

Sementara itu, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan aktivitas yang terlihat dalam video tersebut tidak terdeteksi oleh peralatan pengamatan di posnya. Peralatan pengamatan di Pulau Sebesi juga disebut tidak merekam aktivitas tersebut.

“Mungkin (erupsi), karena di kami alat kami tidak terdeteksi. Bahkan di alat pengamatan di Pulau Sebesi pun tak teramati,” kata Suwarno.

Berdasarkan laporan pengamatan periode 26 Oktober 2026 pukul 12.00–18.00 WIB, kondisi Gunung Anak Krakatau terpantau berkabut dengan tingkat kabut 0–III. Asap kawah tidak teramati, sedangkan kamera pengawas atau CCTV lapangan dilaporkan tidak aktif.

Pada periode yang sama, alat pengamatan merekam satu kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 30 milimeter dan durasi 21,5 detik. Tremor menerus atau mikrotremor juga tercatat dengan amplitudo 2–13 milimeter dan amplitudo dominan 3 milimeter.

Meski aktivitas yang terlihat dalam video tidak terdeteksi oleh peralatan pengamatan tersebut, laporan yang dikutip menyebut status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Masyarakat Diminta Menjauhi Kawasan Berbahaya

Dalam laporan tersebut, masyarakat, pengunjung, dan wisatawan dilarang memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.

Masyarakat juga diminta menjauhi radius satu kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.

Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran material vulkanik, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak material panas dengan air laut maupun air hujan.

Informasi mengenai aktivitas gunung api dan rekomendasi keselamatan perlu merujuk pada pembaruan resmi dari otoritas pengamatan gunung api agar masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.(æ/red)