
JAKARTA, BeritaTKP.com — Jenazah seorang pria yang ditemukan di perairan Pulau Enggano, Bengkulu, telah teridentifikasi sebagai Surakman, salah satu anak buah kapal (ABK) speedboat Arupadhatu 1 yang sebelumnya hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menjelaskan, jenazah tersebut pertama kali ditemukan pada Sabtu (12/9/2026) di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Saat ditemukan, jenazah belum memiliki identitas.
Korban ditemukan dengan ciri-ciri mengenakan celana pendek berwarna hitam, memiliki tinggi sekitar 163 sentimeter, dan diperkirakan berusia sekitar 50 tahun.
Setelah penemuan tersebut, tim Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Bengkulu berkoordinasi dengan Polda Banten untuk melakukan proses identifikasi. Tim Disaster Victim Identification (DVI) melakukan pencocokan data antemortem dari keluarga korban Arupadhatu 1 melalui sidik jari, data gigi, hingga pemeriksaan DNA.
Hasil pemeriksaan DNA memastikan bahwa jenazah tersebut merupakan Surakman, ABK kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak bersama lima jurnalis dan dua awak kapal lainnya di Selat Sunda.
Kronologi Hilangnya Kapal Arupadhatu 1
Rombongan kapal Arupadhatu 1 berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Kapal tersebut membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal dengan tujuan melakukan dokumentasi aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sekitar pukul 18.13 WIB, kru kapal masih sempat berkomunikasi dengan rekan mereka dan mengirimkan foto aktivitas Gunung Anak Krakatau. Namun, beberapa menit setelah komunikasi terakhir tersebut, kapal tidak lagi dapat dihubungi.
Lima jurnalis yang berada dalam kapal tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal sebagai jurnalis lepas.
Sementara tiga awak kapal terdiri dari Warta sebagai kapten kapal, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu.
Proses Pencarian Berlangsung Berhari-hari
Setelah kapal dinyatakan hilang kontak, operasi pencarian dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI AL, Polairud, dan unsur terkait lainnya.
Tim SAR membagi wilayah pencarian menjadi beberapa sektor dengan menggunakan sejumlah kapal, termasuk KN SAR Tetuka, KAL Anyer, kapal Basarnas Lampung, serta kapal Polairud Polda Banten.
Dalam proses pencarian, beberapa benda sempat ditemukan, seperti jaket pelampung berwarna oranye, buoy, helm proyek, dan jeriken. Namun, benda-benda tersebut belum dapat dipastikan berasal dari kapal Arupadhatu 1.
Kondisi cuaca dan angin kencang turut menjadi kendala bagi tim pencarian. Meski demikian, operasi terus diperluas dengan melibatkan puluhan kapal dan area pencarian yang semakin besar.
Pada hari ke-10 pencarian, wilayah operasi diperluas hingga sekitar 8.508 mil laut persegi dengan melibatkan 24 kapal yang dibagi dalam beberapa sektor.
Tim SAR juga melakukan penyisiran wilayah pesisir, mulai dari Carita hingga Pantai Anyer. Namun, hingga batas waktu operasi pencarian, belum ditemukan tanda keberadaan seluruh korban lainnya.
Basarnas kemudian menghentikan operasi pencarian sesuai prosedur setelah tidak menemukan petunjuk baru. Meski demikian, operasi dapat kembali dibuka apabila ditemukan informasi atau material baru yang berkaitan dengan kapal Arupadhatu 1.(æ/red)





