Mourin pengelola arisan Meow (Foto: Istimewa)

SURABAYA, BeritaTKP.com – Pengelola arisan Meow atau Meouw, Mourin Chienci Lintong, membantah tudingan penggelapan dana arisan yang disebut menimbulkan kerugian miliaran rupiah. Ia mengklaim kemacetan pembayaran terjadi karena 33 anggota atau member tidak memenuhi kewajiban pembayaran.

Mourin menjelaskan, persoalan arisan Meow mulai muncul pada Februari 2026. Menurutnya, kemacetan pembayaran dipicu oleh sejumlah peserta yang mengambil banyak slot arisan dengan nilai angsuran besar, tetapi kemudian berhenti membayar.

Pernyataan tersebut disampaikan Mourin pada Senin (19/10/2026), di tengah proses penyelidikan dugaan penipuan dan atau penggelapan arisan Meow yang ditangani Polda Jawa Timur.

Mourin Sebut Sejumlah Member Bermasalah dalam Pembayaran

Mourin menyebut Chester Jeveline Thaniago sebagai salah satu pihak yang diduga memicu kemacetan pembayaran. Menurut pengakuannya, Chester mengambil sejumlah slot arisan dengan nilai angsuran mencapai Rp400 juta, tetapi pembayaran kemudian tidak dilanjutkan.

Ia mengaku berupaya menstabilkan arisan setelah pembayaran mulai macet. Namun, persoalan kembali muncul ketika Aika Harismawati disebut tidak memenuhi kewajiban pembayaran arisan dengan nilai angsuran Rp100 juta per bulan.

“Selisih dana yang dibawa Aika mencapai lebih dari Rp1 miliar,” ujar Mourin.

Mourin mengaku telah melaporkan Aika Harismawati dan Netty Hariati ke polisi terkait persoalan pembayaran tersebut. Ia mengatakan laporan telah masuk ke Polrestabes Surabaya melalui Unit Harda sejak 28 Juli 2026, sedangkan laporan terhadap Chester disebut akan menyusul.

Seluruh tudingan tersebut merupakan keterangan dari Mourin dan masih perlu diuji melalui proses hukum.

Bantah Tuduhan Terkait Arisan dan Transaksi Rp1,9 Miliar

Mourin juga menjelaskan persoalannya dengan Ara Herawaty, yang disebut sebagai pelapor awal dalam kasus arisan Meow. Ia mengaku mengenal Ara melalui seorang teman bernama Belinda.

Menurut Mourin, Ara awalnya mengikuti arisan menurun dengan dana yang telah ditransfer lebih dari Rp100 juta. Namun, ia menyebut Ara kemudian tidak melanjutkan pembayaran arisan tersebut.

Persoalan lain berkaitan dengan transaksi arisan flat senilai Rp1,9 miliar. Mourin mengaku baru mengetahui setelah memeriksa mutasi rekening bersama akuntannya bahwa transfer dana untuk transaksi tersebut bukan dilakukan oleh Ara, melainkan oleh seseorang bernama Juanda Kurniadi.

Berdasarkan perhitungannya, terdapat selisih sekitar Rp600 juta antara dana yang telah dibayarkan kepada Ara dan nilai transaksi yang dikaitkan dengan arisan flat tersebut. Ia menyatakan perbedaan itu perlu diperiksa lebih lanjut.

Mourin juga mengklaim Chester dan Aika mengajak sejumlah orang mengikuti arisan dengan nilai besar, mulai Rp50 juta hingga Rp500 juta. Ia menduga terdapat unsur kesengajaan yang menyebabkan arisan Meow mengalami kemacetan, termasuk dugaan penggunaan nama fiktif dalam daftar anggota yang dikaitkan dengan Chester.

Namun, klaim mengenai dugaan nama fiktif dan keterlibatan pihak-pihak tersebut belum dapat dianggap sebagai fakta yang terbukti.

Bantah Dana Arisan Mengalir ke Bisnis Spa

Selain membantah tuduhan penggelapan, Mourin juga menyangkal anggapan bahwa dana arisan Meow mengalir ke tempat spa yang dikaitkan dengan dirinya.

“Tidak ada sama sekali. Tempat spa yang dituduhkan kepada saya itu bukan punya saya,” kata Mourin.

Ia mengaku telah melaporkan sejumlah akun media sosial ke Polda Jawa Timur karena dinilai menyebarkan informasi tidak benar dan merugikan nama baiknya.

Mourin berharap seluruh persoalan dapat diusut sesuai prosedur hukum, termasuk laporan yang menurutnya berkaitan dengan pihak-pihak yang memiliki tunggakan pembayaran.

Polda Jatim Telah Memeriksa Delapan Orang

Sebelumnya, sejumlah peserta arisan Meow mengaku menjadi korban dugaan penipuan dan atau penggelapan. Total kerugian yang dilaporkan mencapai Rp4.075.231.000.

Salah satu peserta, Ami, mengatakan awalnya mengikuti arisan tersebut atas rekomendasi seorang teman yang telah lama menjadi anggota. Menurutnya, arisan sempat berjalan lancar sebelum mengalami gagal bayar pada Juli 2026.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur Kombes Roy Hutton Marulamrata Sihombing mengatakan, laporan kasus tersebut diterima pada 11 Agustus 2026.

Penyidik telah melakukan klarifikasi terhadap delapan orang, yang terdiri atas pelapor, sejumlah saksi, dan satu orang terlapor.

“Dalam proses penyelidikan dan penanganannya, penyidik telah melakukan klarifikasi terhadap delapan orang, terdiri dari pelapor, sejumlah saksi-saksi lainnya, serta satu orang terlapor,” kata Roy.

Kasus dugaan penipuan dan atau penggelapan arisan Meow masih dalam penanganan kepolisian. Keterangan pengelola maupun laporan para peserta perlu diperiksa untuk mengungkap aliran dana, kewajiban pembayaran, serta pihak yang bertanggung jawab.(æ/red)