Orangtua dan guru bocah SD yang gantung diri di Ngada NTT mendapat pendampingan psikologis dan psikoedukasi.

NTT, BeritaTKP.com – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) melalui Biro Sumber Daya Manusia (SDM) memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada yang meninggal dunia. Selain itu, psikoedukasi juga diberikan kepada tenaga pendidik di lingkungan sekitar korban.

Karo SDM Polda NTT, Kombes Pol Juli Agung Pramono, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kehadiran negara dalam memberikan perlindungan serta pemulihan psikologis kepada masyarakat yang terdampak peristiwa traumatis.

Pendampingan ini juga dilakukan untuk mendukung proses pemeriksaan oleh Satreskrim Polres Ngada, agar keluarga korban dapat menjalani proses hukum dengan kondisi psikologis yang lebih stabil.

“Tim memberikan penguatan psikologis menggunakan metode Therapy USEFT kepada keluarga korban,” ujar Juli, Selasa (10/2/2026).

Selain pendampingan, tim juga menyerahkan bantuan sembako sebagai bentuk empati dan kepedulian sosial.

Terapi dan Psikoedukasi

Berdasarkan hasil pendampingan hari pertama, keluarga korban mulai menunjukkan respons positif. Mereka perlahan dapat menerima peristiwa yang terjadi, mengelola emosi seperti sedih, marah, kecewa, dan trauma, serta merasakan dukungan dari berbagai pihak.

Tim pendamping memberikan penguatan psikologis dengan metode Therapy USEFT, sekaligus mendengarkan keluh kesah keluarga setelah menjalani pemeriksaan. Pendampingan tersebut membantu keluarga yang sebelumnya mengalami syok, kesedihan mendalam, rasa bersalah, dan trauma, menjadi lebih tenang dan mampu mengendalikan emosi.

“Dengan kondisi psikologis yang lebih stabil, keluarga korban dapat memberikan keterangan yang lebih jelas, runtut, dan objektif kepada penyidik, serta mulai memahami proses hukum yang berjalan,” jelas Juli.

Selain kepada keluarga, psikoedukasi juga diberikan kepada kepala sekolah dan para guru di lingkungan sekitar. Materi yang disampaikan antara lain pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta pencegahan perilaku perundungan (bullying) sejak dini.

“Kami tidak hanya fokus pada aspek penegakan hukum, tetapi juga memastikan kondisi psikologis keluarga tetap terjaga. Psikoedukasi kepada pendidik menjadi langkah preventif agar peristiwa serupa tidak terulang,” ujarnya.

Ia menambahkan, pencegahan sejak dini sangat penting untuk melindungi kesehatan mental anak-anak dan memastikan sekolah menjadi ruang yang aman serta suportif.(æ/red)