LOMBOK TENGAH, BeritaTKP.com – Kasus dugaan pembakaran terhadap tiga santri di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencuat ke publik setelah video salah satu korban beredar luas di media sosial.
Dalam rekaman yang viral, terlihat seorang santri menangis menahan rasa sakit sambil menunjukkan luka bakar di sejumlah bagian tubuhnya. Korban saat itu sedang menjalani perawatan di rumah sakit dengan luka yang telah dibalut perban. Suara anggota keluarga yang berusaha menenangkan korban juga terdengar dalam video tersebut.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Menurutnya, kejadian itu sebenarnya berlangsung pada November 2025, namun baru mendapat perhatian luas setelah video korban beredar di media sosial pada Juni 2026.
Berdasarkan informasi awal yang diterimanya, terdapat tiga santri yang menjadi korban dalam insiden tersebut. Mereka diduga disiram bahan bakar oleh sesama santri sebelum kemudian dibakar.
Akibat kejadian itu, dua korban mengalami luka bakar serius dan harus menjalani perawatan intensif. Sementara satu korban lainnya dilaporkan meninggal dunia akibat luka yang dideritanya.
“Korbannya ada tiga orang. Dua mengalami luka bakar, sedangkan satu korban meninggal dunia,” ungkap Joko.
Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi sorotan publik karena baru terungkap beberapa bulan setelah peristiwa terjadi. Beredarnya video korban memunculkan pertanyaan mengenai penanganan kasus serta perlindungan terhadap anak-anak di lingkungan pendidikan berasrama.
Pihak terkait diharapkan dapat mengusut secara menyeluruh dugaan tindak kekerasan tersebut, termasuk memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan dan memberikan pendampingan kepada para korban maupun keluarga mereka.
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya pengawasan, perlindungan anak, serta pencegahan segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan agar tragedi serupa tidak kembali terulang.(æ/red)





