JAKARTA, BeritaTKP.com – Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) memberikan klarifikasi tegas terkait beredarnya video viral di media sosial yang menarasikan tiga orang warga tewas diterkam harimau di wilayah Sekincau, Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Otoritas memastikan bahwa informasi tersebut sepenuhnya bohong atau hoaks.

Kepala Balai Besar TNBBS, Hifzon Zawahiri, menegaskan bahwa tidak pernah ada kejadian warga yang meninggal dunia akibat serangan harimau seperti yang digembar-gemborkan dalam narasi video yang beredar luas di tengah masyarakat.

“Sehubungan dengan adanya video yang beredar bahwa ada warga meninggal dunia karena diterkam oleh harimau, kami mengklarifikasi bahwa berita tersebut adalah informasi bohong atau hoaks,” ujar Hifzon, Kamis (23/7/2026).

Fakta Sebenarnya: Insiden Ledakan Mortir di Bandung Barat Berdasarkan hasil penelusuran lebih lanjut, pihak TNBBS mendapati bahwa foto dan rekaman video yang disebarkan oleh pihak tak bertanggung jawab tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan wilayah Lampung Barat maupun konflik satwa liar.

Dokumentasi itu merupakan peristiwa tragis ledakan mortir yang terjadi di Desa Cipatat, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dalam insiden di Bandung tersebut, para korban dilaporkan meninggal dunia setelah tanpa sengaja menemukan sebuah mortir lalu mencoba membukanya hingga memicu ledakan fatal.

“Video atau foto yang beredar tersebut sebenarnya adalah korban ledakan mortir di Bandung, Jawa Barat. Ketiga orang tersebut menemukan mortir dan mencoba membukanya, lalu terjadi ledakan,” jelasnya.

Imbauan agar Warga Tidak Mudah Percaya Hoaks Menanggapi maraknya penyebaran disinformasi ini, pihak TNBBS mengimbau masyarakat agar senantiasa waspada dan tidak mudah percaya terhadap segala bentuk informasi yang belum terverifikasi kebenarannya, khususnya isu-isu sensitif terkait konflik satwa liar yang dapat memicu keresahan.

Warga juga diminta untuk tidak ikut-ikutan menyebarkan ulang foto, video, maupun narasi palsu tersebut ke platform media sosial lainnya.

“Jadi untuk berita, baik foto, video, atau narasi lainnya yang menyatakan bahwa tiga orang menjadi korban harimau adalah tidak benar,” tegas Hifzon.

Pihak berwenang mengingatkan masyarakat untuk selalu menyaring informasi dan mengonfirmasinya melalui kanal-kanal resmi instansi terkait guna mencegah kepanikan dan kesalahpahaman di tengah publik.(æ/red)