Jakarta,BeritaTKP.com – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan fenomena sinkhole yang terjadi di kawasan pertanian Pombatan, Sumatera Barat, disebabkan oleh proses erosi buluh. Fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses alamiah yang berlangsung secara terus-menerus.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan proses tersebut umumnya terjadi pada batuan berbutir halus dengan intensitas curah hujan yang relatif tinggi.

“Proses pembentukan sinkhole ini berbeda dengan proses pembentukan sinkhole pada batugamping,” ujar Lana dalam keterangannya yang ditulis di Bandung, Selasa (6/1/2026).

Lana mengungkapkan, berdasarkan hasil analisis Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi, amblesan terjadi akibat adanya rekahan di permukaan lapukan batuan tuff. Di bagian bawah lapukan tersebut terdapat batu gamping malihan yang bersifat kedap air (impermeable), sehingga memicu terjadinya proses amblesan.

Rekahan tersebut berfungsi sebagai jalur masuk air ke dalam tanah. Aliran air di dalam rekahan kemudian memicu proses erosi buluh. Akibatnya, terbentuk rongga di bawah permukaan tanah yang diikuti runtuhnya lapisan tanah bagian atas hingga membentuk sinkhole.

“Lubang yang terbentuk akibat sinkhole dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan air dengan catatan dibuatkan pagar pengaman di sekitar lubang,” kata Lana.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk melakukan pemantauan apabila mulai terbentuk retakan atau rekahan yang semakin membesar, serta segera melaporkannya kepada aparat setempat agar dapat dikoordinasikan dengan instansi berwenang.

“Masyarakat diharapkan tetap tenang apabila terdengar suara gemuruh dari dalam tanah. Peristiwa seperti ini berpotensi terjadi di lokasi lain pada lahan pertanian sekitarnya,” jelasnya.

Proses Erosi Buluh

Lana menjelaskan, erosi buluh merupakan proses pengikisan tanah oleh aliran air bawah permukaan yang membentuk saluran menyerupai pipa, sebagaimana dikemukakan oleh Boucher, S.C. (1990).

Faktor penyebab erosi buluh meliputi jenis batuan tertentu, seperti mineral lempung, batuan bertekstur halus, serta intensitas curah hujan yang tinggi, sebagaimana dijelaskan Bernatek-Jakiel dan Poesen (2018).

“Proses kejadian diawali dengan terbentuknya rekahan secara perlahan yang menjadi jalur aliran air bawah tanah. Tata guna lahan seperti pertanian intensif, sistem irigasi yang buruk, serta alih fungsi lahan turut menjadi faktor penyebab, ditambah adanya gradien hidraulik air tanah,” terang Lana.

Data yang diperoleh di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, menunjukkan jenis batuan berupa mineral lempung dan batuan bertekstur halus.

Lana menyebut wilayah tersebut tersusun atas Formasi Tuff Batu Apung (Qpt) berupa batu apung (pumice). Pada bagian bawah formasi tersebut terdapat Anggota Batugamping Formasi Kuantan (PCkl) berupa batu gamping malihan, merujuk pada Peta Geologi Lembar Solok, Sumatera Skala 1:250.000 terbitan Badan Geologi tahun 1995.

“Berdasarkan foto dari laporan masyarakat, terlihat tanah pelapukan batu apung berukuran butir lempung. Batu gamping malihan bersifat kedap air (impermeable),” ujar Lana.

Sebelum terbentuknya sinkhole, berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah tersebut kerap diguyur hujan dengan intensitas tinggi, dengan rata-rata curah hujan mencapai 2.000–2.500 mm per tahun.

Lubang Raksasa Misterius di Limapuluh Kota

Sebelum peristiwa sinkhole terjadi, Badan Geologi Kementerian ESDM menerima informasi mengenai munculnya rekahan di area persawahan. Sawah yang sebelumnya mengalami retakan akibat kemarau, kemudian tiba-tiba runtuh dan membentuk lubang besar.

Diameter lubang tersebut terus melebar, dan dari dalamnya terdengar suara dentuman air. Sebagian besar kawasan di sekitar sinkhole merupakan lahan pertanian Pombatan yang digarap oleh masyarakat setempat.

Lana menjelaskan, ditemukannya air di dalam sinkhole disebabkan oleh genangan yang berasal dari aliran air tanah.

Fenomena amblesan ini terjadi pada 4 Januari 2026 di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. Lubang amblesan yang terbentuk memiliki lebar sekitar 20 meter dengan kedalaman kurang lebih 15 meter.

Fenomena amblesan pada umumnya terjadi pada batu gamping. Namun, amblesan di kawasan ini tidak terjadi pada batu gamping, melainkan pada endapan lapukan batuan vulkanik.

Dilansir Antara, fenomena sinkhole yang muncul di kawasan pertanian tersebut pada Minggu (4/1/2026) sekitar pukul 11.00 WIB semakin mencengangkan masyarakat. Pasalnya, dalam waktu 24 jam setelah lubang misterius itu muncul, debit air di dalamnya terus meningkat hingga menggenangi sawah di sekitarnya.

“Iya, air di dalam lubang kini bertambah dan naik ke atas sawah. Airnya terlihat seperti telaga berwarna biru. Saya cemas, karena air yang naik bisa membuat lubang semakin besar. Paman saya, Mak Etek Uwid, yang pertama kali melihat lubang muncul disertai bunyi gemuruh, juga masih cemas,” ujar Adrolmios alias Si Ad (61), pemilik sawah, kepada wartawan, Senin (5/1).

Plt Wali Nagari Situjuah Batua, Emil Nofri Ihsan Dt Rajo Simarajo, bersama Kepala Jorong Tepi, Salmi, membenarkan bahwa air di dalam lubang yang diduga sinkhole tersebut terus meningkat dan telah menggenangi seluruh area persawahan.

Untuk mengantisipasi risiko dan menjaga keamanan ribuan warga yang datang silih berganti ke lokasi, Polsek Situjuah Limo Nagari memasang garis polisi (police line) serta menerjunkan personel untuk berjaga.

Anggota Komisi DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang berada di lokasi, meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Limapuluh Kota agar segera menyurati Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk keperluan antisipasi dan penanganan bencana.

“Koordinasi lisan yang telah dilakukan BPBD Limapuluh Kota perlu diiringi dengan surat resmi kepada PVMBG Kementerian ESDM agar menurunkan ahli untuk meneliti fenomena alam ini. Dengan kajian ahli, pemerintah daerah bisa memberikan solusi dan mengambil langkah antisipatif, sehingga masyarakat tidak cemas dan tidak muncul spekulasi liar,” kata Fajar Rillah Vesky.

Ia menambahkan, meskipun fenomena ini terjadi pada awal tahun anggaran, kajian cepat dan tindakan kedaruratan tetap harus dilakukan oleh BPBD dan organisasi perangkat daerah terkait. Termasuk pemberian bantuan tanggap darurat bagi para petani yang tidak dapat beraktivitas secara ekonomi karena lahan sawahnya terdampak dan terus didatangi masyarakat.(æ/red)