Surabaya, BeritaTKP.com – Tindak tegas kericuhan siswa SMAN 9 Surabaya pada kejuaraan bola basket piala wali kota yang terjadi pada Senin (20/2/2023) lalu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memasukkan sejumlah siswa terlibat ke Sekolah Kebangsaan.
“Terkait dengan SMAN 9, namanya anak muda, saya sudah kumpulkan semuanya, sudah saya kasih tahu, bahwa untuk Surabaya yang meneruskan arek-arek, kalau seperti ini jadinya ga bagus. Apa hubungannya dengan sekolah kebangsaan? Sekolah kebangsaan itu adalah setiap anak harus punya ideologi pancasila, kalau dia sudah cinta bangsanya, dia akan mengerti nilai pancasila. Sehingga ada guyub rukun dan tolong menolong,” kata Eri, Jumat (24/2/2023) kemarin.

Ia menegaskan, bahwa sekolah kebangsaan bukanlah tempat untuk mendidik remaja yang berperilaku kurang baik, tetapu siswa berprestasi juga untuk memotivasi. Memang ada yang nakal dimasukkan, tetapi setiap sekolah juga diminta dan digilir untuk sekolah kebangsaan, baik SMP maupun SMA.
Namun, di samping itu masih ada beberapa orang tua yang kurang setuju bila anaknya dicampurkan dengan remaja terjaring. Eri menjelaskan, jika orang tua telah salah paham. Jadi untuk meyakinkan warganya, anak Wali Kota Eri sendiri juga diikutkan dalam sekolah kebangsaan.
“Itu keliru. Sekolah kebangsaan tidak seperti itu. Wong anakku ae yo tak lebokno (orang anak saya saja dimasukkan), kan SMA tak masukkan, ada daftarnya. Ada gelombangnya, semua akan mendapatkan sekolah kebangsaan. Kalau ada orang tua yang narik anaknya karena takut dikumpulkan (dengan remaja terjaring) itu salah. Harusnya bangga,” jelasnya.
Sebab, lanjut Eri, ketika sudah lulus dari sekolah kebangsaan, setiap anak-anak akan diberi pin dan dijadikan duta Surabaya. Semakin banyak duta, maka semakin banyak pula memiliki pengajar dan penyalur pancasila di masing-masing lingkungan.
Terkait sekolah kebangsaan yang banyak dikenal sekolah anak nakal, ia menyampaikan ke orang tua, jika sekolah yang diikuti selama 8 hari itu untuk menguatkan hati, jiwa guyub rukun, tolong menolong, dan toleransi sesuai dengan ideologi pancasila.
Ketika anak sudah memiliki rasa kebangsaan, maka otomatis mempunyai jiwa yang baik di tempat berkumpul. Karena di dalam sekolah kebangsaan diberikan pembelajaran nilai kebangsaan dan agama.
“Siapakah anak nakal itu? Apakah geng motor itu nakal, bisa jadi iya. Tapi apakah anak diam tidak nakal? Ada yang diam, orang tuanya ga tahu tiba-tiba anaknya silet-silet tangan disedot, ngelem. Karena tidak punya nilai agama dan kebangsaan. Sekarang ayo orang tua, ini sudah sosialisasi dispendik menyampaikan ke sekolah,” pungkas Eri. (Din/RED)





