Surabaya, BeritaTKP.com – Suasana duka menyelimuti pihak keluarga Suwarti (59), wanita yang ditemukan meninggal dunia di dalam kamar mandi Pondok Nuswantoro milik Gus Samsudin yang ada di Kabupaten Blitar. Suami Suwarti, Muhammad Nafi dan anak korban, Dwi Pujiati menceritakan soal kepergian korban hingga ditemukan tidak bernyawa di tempat milik Gus Samsudin.

Pria yang bertempat tinggal di Tambak Asri Melati III, Kecamatan Morokrembangan, Kota Surabaya, mengaku bahwa baru kali ini istrinya pergi tanpa berpamitan kepada orang rumah. “Ninggalno keluarga tanpa berunding itu ndak pernah. Opo wes keroso, opo yoopo? (Apa sudah terasa, apa bagaimana?)” Ujar Nafi dengan nada sedih, dikutip dari detikjatim, Jumat (15/12/2023).

Suwarti diketahui pergi dari rumahnya ke Blitar, pada Sabtu (9/12/2023) lalu. Ia berangkat seorang diri naik bus dari Terminal Purabaya untuk berobat ke Pondok Nuswantoro milik Gus Samsudin. Nafi yang saat itu sedang bekerja tidak tahu bahwa istrinya meninggalkan rumah. Tetapi anaknya, Dwi mengaku mendapatkan pesan singkat saat ibunya sudah berangkat ke Blitar.

“Sabtu pagi sekitar jam 8.30 WIB perginya. Tetangga yang pada tahu. Awalnya WhatsApp aku, waktu itu Ibu sudah OTW sampai Malang. Itu sendirian naik bus,” ujar Dwi yang turut mendampingi ayahnya.

“‘Nanti tak kabarin lagi kalau ibu sudah sampai’ begitu katanya. Aku bilang ‘ya udah Bu ati-ati, nanti kalau sudah ndang (segera) pulang’. Berangkat sendiri, di rumah pas lagi nggak ada orang,” lanjutnya.

Sejak itu, Dwi tidak bisa lagi menghubungi ibunya, meski sudah mencoba menelepon ponsel ibunya puluhan kali. Sedangkan, Nafi juga terus mencoba menghubungi ponsel istrinya hingga 25 kali. Selain itu, pihak keluarga juga berupaya menghubungi admin Pondok Nuswantoro, tetapi tidak ada tanggapan.

“Sampai hari minggu nggak ada kabar. Ditelepon sampai 25 kali, nomernya nyambung tapi nggak ada respon. Senin pagi akhirnya berangkat nyariin, sampai sana sekitar jam 1 siang,” kata Nafi.

Setibanya di pondok Gus Samsudin, pihak keluarga langsung mencari keberadaan Suwarti. Namun pihak pondok tak kunjung memberi informasi yang jelas demikian halnya saat keluarga meminta rekaman CCTV.

Keluarga pun sempat mengecek ke terminal untuk mencari keberadaan Suwarti, tetapi hasilnya tetap nihil. “Sempat cek ke terminal juga tapi nggak ada. Akhirnya minta bantuan ke kepolisian. Nggak lama setelah itu, akhirnya terungkap keberadaan istri saya,” tutur Nafi.

Dengan bantuan petugas polisi Polsek Lodoyo Barat (Lobar) dan Polres Blitar, Suwarti akhirnya ditemukan meninggal dunia dalam posisi telungkup tanpa busana di dalam kamar mandi Pondok Nuswantoro Blitar, pada Senin (11/12/2023). Ada dugaan bahwa Suwarti tewas saat hendak mandi usai menjalani pengobatan.

Sejumlah luka juga ditemukan beberapa bagian tubuh Suwarti. Yakni di lutut, lengan, dan dahi. Polisi menyampaikan dugaan bahwa luka itu muncul karena terpeleset atau terbentur keramik di kamar mandi.

“Pas dibuka saya lihat istri saya telungkup, langsung teriak ‘mati nak ibumu’, terus saya nggeletak ndak sadar,” ujar Nafi.

Sementara itu, Dwi tak menyangka bahwa ibunya tewas di kamar mandi. Sebab, ketika dirinya sempat ikut mengecek di kamar mandi umum pondok itu, dia tidak menemukan ada pertanda apapun.

“Saya nggak ada curiga. Padahal saya sempat ke kamar mandi yang posisinya tepat di sampingnya. Nggak ada bau apa-apa juga. Pas kamar mandi dibuka semua kaget kalau ibu sudah meninggal,” kata Dwi.

[videopress C9yTaglR]

Jenazah Suwarti kemudian dimandikan dan dibawa ke Surabaya. Pada Selasa (12/12/2023) dini hari sekitar pukul 04.00 WIB jenazah tiba di kediamannya. Kemudian sekitar pukul 07.00 WIB jenazah dibawa ke Lamongan untuk dimakamkan di daerah asalnya, tepatnya di Jegreg, Modo, Kabupaten Lamongan. (Din/RED)