CIANJUR, BeritaTKP.com – Teror mencekam yang menghantui para petani di Desa Bunijaya, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, resmi berakhir. Seekor babi hutan berukuran besar yang sempat mengamuk dan melukai empat warga setempat berhasil dilumpuhkan secara permanen oleh tim gabungan pada Jumat malam, 12 Juni 2026. Satwa liar yang agresif tersebut dieksekusi mati setelah terjebak dalam perangkap taktis di dalam hutan.
Perburuan kilat ini diinisiasi oleh personel Polres Cianjur, Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin), serta komunitas pemburu lokal. Langkah agresif ini diambil menyusul adanya desakan dari masyarakat yang dilanda ketakutan hebat untuk kembali menggarap ladang dan sawah mereka.
Identifikasi Akurat Lewat Jejak Luka Cangkul
Kabid Berburu Perbakin Cianjur, Gofar Hendra Gunawan, membeberkan bahwa tim masuk sejauh dua kilometer membelah rimbunnya hutan Kampung Cilameta segera setelah koordinasi matang dilakukan. Setelah memetakan jalur lintasan satwa, tim menemukan jejak kaki segar dan langsung memasang jerat berkawat baja yang dilengkapi dengan umpan lambung.
Siasat tersebut berjalan mulus. Hewan target perlahan mendekati umpan hingga akhirnya kaki belakangnya terjerat. Namun, karena babi hutan tersebut terus memberontak secara brutal dan berpotensi memutus tali jerat yang membahayakan keselamatan tim, petugas mengambil tindakan tegas terukur.
“Babi hutan tersebut akhirnya mati di tempat setelah kami melepaskan tembakan senapan. Tim di lapangan langsung mengevakuasi bangkai hewan tersebut keluar dari dalam hutan,” jelas Gofar pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Gofar memastikan bahwa babi yang dilumpuhkan ini merupakan predator tunggal yang menjadi dalang atas penyerangan warga beberapa waktu lalu. Struktur fisik dan ciri-cirinya sangat identik, terutama adanya bekas luka hantaman senjata tajam jenis cangkul di bagian kepalanya—bekas perlawanan sengit dari salah satu korban saat mencoba menyelamatkan diri.
Efisiensi Kurang dari Dua Jam
Apresiasi mendalam atas keberhasilan operasi ini disampaikan oleh Kapolres Cianjur, AKBP A. Alexander Yurikho Hadi. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan melacak hewan buas ini berakar pada matangnya proses pemetaan wilayah migrasi satwa oleh intelijen polsek setempat dan warga.
“Sejak posko perburuan gabungan dibuka di tepi hutan hingga satwa liar tersebut berhasil dieksekusi, waktu yang dibutuhkan kurang dari dua jam. Akselerasi ini terjadi karena tim sudah mengantongi data pengecekan jejak yang presisi,” tutur AKBP Alexander.
Kendati demikian, Kapolres mengingatkan warga agar tetap memelihara kewaspadaan kolektif dan tidak ragu untuk segera melapor jika mendeteksi adanya pergerakan kawanan babi hutan lain yang turun dari gunung menuju area perkebunan domestik.
Dampak Serangan dan Antisipasi Jangka Panjang
Sebelumnya, suasana agraris di Kampung Cilameta sempat lumpuh setelah babi hutan galak tersebut menyerang empat petani secara membabi buta di area persawahan. Dari empat korban yang terluka, satu di antaranya harus menderita cacat permanen berupa putusnya dua jari tangan akibat gigitan dan serudukan fatal satwa tersebut.
Kepala Desa Bunijaya, Asep Mulyadi, menyatakan bahwa meskipun kondisi psikologis warga kini mulai berangsur pulih dan sebagian besar petani sudah kembali turun ke sawah, langkah preventif jangka panjang tidak akan dikendurkan.
Pihak desa bersama komunitas buru lokal berkomitmen untuk terus menyisir perbatasan hutan dan memasang perimeter jerat baru di titik-titik rawan. Hal ini dilakukan demi mengantisipasi adanya serangan susulan dari sisa kawanan babi hutan lain, sekaligus menjamin keamanan serta produktivitas pangan para petani di kaki bukit Cianjur tersebut.(æ/red)





