Menyeberang Sungai Demi Sekolah: Kisah Pilu Pelajar Desa Kali Pasir Lampung di Tengah Jembatan Mangkrak

Lampung Tengah, BeritaTKP.com –Bagi sebagian anak, seragam sekolah yang bersih adalah hal biasa. Namun bagi Praja, pelajar asal Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur, menjaga seragam tetap kering hingga tiba di sekolah adalah kemewahan yang sulit diraih.

Setiap pagi, Praja dan sejumlah pelajar lain harus mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi Sungai Way Bungur menggunakan perahu kayu sederhana. Tidak ada jembatan permanen yang bisa mereka lalui. Perahu itulah satu-satunya akses agar mereka dapat menempuh pendidikan.

Derasnya arus sungai kerap menjadi ancaman nyata, terutama saat debit air meningkat. Dalam kondisi tertentu, risiko perjalanan bukan hanya soal basah kuyup, tetapi juga keselamatan jiwa.

Perjuangan Praja menjadi potret keterbatasan infrastruktur dasar yang masih dialami warga di wilayah tersebut. Proyek jembatan penghubung Desa Kali Pasir dan Desa Tanjung Tirto yang diharapkan menjadi solusi hingga kini tak kunjung rampung. Di lokasi, hanya berdiri tiang-tiang beton tanpa sambungan, menandakan proyek yang terhenti dan terbengkalai.

Bagi Praja dan teman-temannya, banjir bukan sekadar penghalang perjalanan, melainkan ancaman serius. Ia mengaku pernah terpaksa tidak masuk sekolah karena arus sungai terlalu deras dan berbahaya untuk diseberangi.

“Kalau banjir, ya basah-basah semua,” ujar Praja dengan senyum getir saat ditemui di atas perahu penyeberangan, Kamis (5/2/2026).

Ia bahkan pernah tercebur ke sungai saat menyeberang dengan masih mengenakan seragam sekolah. Meski begitu, harapan Praja sangat sederhana.

“Harapannya jembatannya cepat jadi, supaya aksesnya mudah,” katanya.

Keterbatasan akses transportasi air juga berdampak pada kedisiplinan waktu. Praja mengaku kerap terlambat tiba di sekolah. Beruntung, pihak sekolah memahami kondisi tersebut.

“Alhamdulillah, sekolah sudah paham jadi tetap boleh masuk kelas,” ucapnya.

Wakil Kepala SMAN 1 Way Bungur, Ahmad Saiful, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan pihak sekolah memberikan kebijakan khusus demi memastikan hak pendidikan para siswa tetap terpenuhi.

“Kami memberikan dispensasi. Jam berapa pun mereka sampai, tetap diizinkan masuk kelas dan mengikuti pelajaran. Kami paham betapa sulitnya perjuangan mereka di penyeberangan,” jelas Saiful.

Kendala geografis itu semakin terasa saat musim ujian. Pihak sekolah bahkan pernah menawarkan opsi agar para siswa menginap di sekolah demi menghindari keterlambatan.

“Biasanya mereka memilih menginap di rumah teman atau kerabat yang tidak perlu menyeberang sungai, supaya bisa ikut ujian tepat waktu,” tambahnya.

Jembatan Mangkrak Bertahun-tahun

Warga Desa Kali Pasir dan Tanjung Tirto mengaku telah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan risiko keselamatan akibat jembatan penyeberangan yang tak kunjung selesai. Proyek tersebut mulai dibangun pada 2018–2019, namun hingga kini mangkrak dan ditinggalkan.

Akibatnya, warga dan pelajar terpaksa mengandalkan perahu kayu yang dinilai rawan dan tidak aman.

Maulana Farid, warga Way Bungur, menyebut kondisi tersebut sangat menghambat mobilitas masyarakat.

“Kalau mau menyeberang ke Way Bungur harus pakai perahu. Itu berisiko, makan waktu, dan ada biaya juga,” katanya, Kamis (5/2/2026).

Menurutnya, akses penyeberangan tersebut sangat vital karena menghubungkan warga dengan pusat aktivitas ekonomi di Lampung Timur maupun wilayah lainnya.

“Sudah bertahun-tahun berhenti. Warga jadi seperti terisolasi secara ekonomi,” ujarnya.

Dampak paling memprihatinkan dirasakan para pelajar. Kekhawatiran orang tua semakin besar saat musim hujan tiba.

“Kalau banjir, penyeberangan sangat berbahaya. Pernah ada anak sekolah yang tercebur ke sungai,” ungkap Maulana.

Hal serupa disampaikan Hamid, warga Way Bungur lainnya. Ia menyayangkan proyek jembatan yang sudah memiliki fondasi beton kini tertutup semak belukar.

“Harapannya jembatan itu bisa segera diselesaikan, supaya akses masyarakat, terutama anak sekolah, bisa lancar,” katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun, pembangunan jembatan tersebut bersumber dari APBD Provinsi Lampung dan APBD Kabupaten Lampung Timur, dengan total anggaran lebih dari Rp20 miliar yang telah dikucurkan dalam beberapa tahap sejak 2014.

Meski kembali dianggarkan pada 2020–2022, hingga 2025 pembangunan jembatan tersebut belum juga rampung. Yang tersisa hanya tiang beton dan sebagian kecil badan jalan.

Kondisi ini sempat menjadi sorotan publik setelah video di media sosial memperlihatkan puluhan siswa mengantre naik perahu untuk menyeberangi Sungai Way Bungur, sungai yang membelah Desa Kali Pasir dan Desa Tanjung Tirto.(æ/red)