
Sidoarjo, BeritaTKP.com – Belasan hektare lahan buah melon dan semangka yang ada di Desa Damarsi, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, mengalami gagal panen imbas kemarau panjang akibat fenomena El Nino. Akibatnya, petani mengalami kerugian hingga puluhan juta.
Hardi (48) salah satu petani Desa Damarsi mengatakan panas ekstrem yang menjadi faktor penyebab para petani melon dan semangka di Desa Damarsi gagal panen. “Karena setiap hari panasnya sangat menyengat, menyebabkan buah melon dan semangka kualitasnya tidak maksimal,” kata Hardi, Jumat (20/10/2023).
Hardi menjelaskan kondisi buah melon yang dipanen tidak bisa besar, hanya segenggam kepalan orang dewasa. Sementara itu untuk buah semangka paling besar beratnya hanya 1 kilogram. Biasanya satu biji buah semangka beratnya 4 hingga 6 kilogram.
Supaya kerugian tidak terlalu besar, petani menjual melon dan semangka eceran di pinggir jalan. “Gagal panen tahun ini kami rugi sekitar Rp 10 juta, untuk menyiasati agar ruginya tidak terlalu banyak. Buah melon dan semangka kami jual secara eceran di pinggir jalan,” jelas Hardi.
Kisaran kerugian yang dialami para petani yang mengalami gagal panen yakni Rp 10-12 juta. Dari modal yang digunakan, untuk sepertiga hektar sawah, para petani menggunakan modal untuk tanam sekitar 15 juta rupiah. Namun saat hasil penjualan panen, mereka hanya mendapatkan uang sekitar 1,3 juta hingga 1,5 juta rupiah. “Setiap petani rata rata mengalami kerugian di atas 15 juta, atau minimal sekitar 10 juta rupiah,” terang Hardi.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Musamah (45) yang sudah menjadi petani melon selama puluhan tahun. Dia juga mengalami kerugian pada musim panas ekstrem kali ini. “Baru tanam kali ini gagal panen, ya gara gara panasnya terlalu,” kata Musamah.
Untuk meminimalisir kerugian yang cukup besar, kata Musamah, para petani kebanyakan menjual seçara langsung hasil panen mereka kepada para konsumen dengan harga kisaran Rp 2 ribu per buahnya. “Kalau dibeli tengkulak harganya gak nutut, karena dibeli dengan harga murah. Ya lebih baik dijual sendiri,” terang Musamah.
Kini para petani hanya bisa pasrah melihat hasil panen mereka gagal, dan hanya bisa berharap kepada pihak pemerintah ada bantuan modal agar mereka bisa terus bertani. (Din/RED)





