Blitar, BeritaTKP.com – Si jago merah yang membakar Pasar Kesamben, Kabupaten Blitar beberapa bulan yang lalu, membuat para pedagang pasar Kesamben berjualan di tengah jalan dengan menggunakan lapak sementara. Total, ada lebih dari 100 orang pedagang yang menempati lapak sementara yang didirikan oleh Pemerintah Kabupaten Blitar.

Untuk lokasi lapak sementara, para pedagang yang berada di tengah jalan timur pasar Kesamben, Kabupaten Blitar, yang terbakar bebrapa bulan lalu. Lapak yang berada di tengah jalan ini diperuntukkan untuk pedagang pakaian dan baju.

Di lokasi lapak ini, kendaraan roda dua masih diizinkan untuk melintas sehingga terkesan semrawut. Para pedagang pun mengeluhkan turunnya omset yang turun cukup tajam.

Suasana lapak sementara pedagang pasar Kesamben Blitar di tengah jalan.

Seperti yang dialami oleh Mona (53), pedagang pakaian yang sudah berjualan di pasar Kesamben selama 29 tahun, mengaku berjualan di lapak sementara yang berada di tengah jalan ini omset penjualannya turun hingga 100% lebih.

Setiap hari Mona hanya bisa menunggu dan bersyukur jika ada satu atau dua pembeli yang mampir ke lapaknya. “Wah sejak di sini anjlok omsetnya turun sampai 100% lebih,” kata Mona pedagang pakaian Pasar Kesamben Kabupaten Blitar, Kamis (02/02/23) kemarin.

Selain mengeluhkan turunnya omset penjualan Mona juga mengeluhkan biaya pembangunan lapak sementara. Diketahui Pemerintah Kabupaten Blitar hanya membangunkan atap serta tempat. Namun untuk pintu lapak dan interior lapak semua dibebankan kepada pedagang.

Wanita tersebut mengaku sudah mengeluarkan uang Rp 5 juta rupiah untuk membangun lapak sementara yang berada di tengah jalan tersebut. “Ini saya habis 5 juta untuk membangun bapak sementara ini karena kan pemerintah Kabupaten Blitar hanya membangun atap sama bedaknya saja namun untuk pintu depan dan rak-rak jualan semua kami yang nanggung,” imbuhnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Misdianto, pedagang pakaian yang berusia 72 tahun tersebut mengaku omsetnya turun hingga 50% lebih setelah berjualan di lapak sementara yang berada di tengah jalan timur Kesamben. Menurut Misdianto banyak pelanggannya yang beralih sejak peristiwa kebakaran pasar Kesamben pada beberapa bulan lalu.

Ia pun terpaksa menggunakan uang tabungannya untuk memulai usahanya kembali. Misdianto juga mengeluarkan uang Rp.9.000.000 untuk merenovasi lapak sementara yang diberikan oleh pemerintah Kabupaten Blitar.

“Wah kalau dulu yang kebakaran ya saya rugi hingga 500 juta ini dengan modal seadanya kembali berjualan, dan ini untuk memperbaiki lapak kemarin keluar uang Rp.9.000.000 untuk bangun itu sama rak-rak ini semua,” katanya.

Mona dan Misdianto pun kompak mengatakan bahwa lokasi lapak sementara ini terkesan semrawut dan sedikit mengganggu. Namun kedua pedagang tersebut mengaku kesemrawutan yang terjadi justru menjadi peluang tersendiri.

Pasalnya ketika banyak pengendara yang lewat di sebelah kanan dan kiri lapak para pedagang kemungkinan konsumen membeli barang atau pakaian yang dijual juga semakin tinggi. “Kalau dibilang semrawut ya semrawut tapi justru dengan banyak warga yang melintas bisa jadi mereka tertarik kemudian membeli,” imbuhnya.

Para pedagang di lapak sementara yang berada di tengah jalan pasar Kesamben tersebut mengaku belum mendapatkan bantuan modal apapun. Para pedagang pun masih menunggu uluran tangan dari pemerintah Kabupaten Blitar untuk membantu usaha mereka. (Din/RED)