
LAMPUNG TIMUR, BeritaTKP.com – Kabar duka menyelimuti dunia konservasi satwa Indonesia. Gajah Indra, gajah jinak jantan yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian Gajah Sumatera di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), dilaporkan mati setelah bertahun-tahun berjuang melawan cedera serius yang dialaminya.
Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, mengatakan kepergian Gajah Indra merupakan kehilangan besar bagi konservasi satwa liar di Indonesia. Gajah berusia 42 tahun itu dikenal luas sebagai salah satu gajah terlatih yang berperan aktif dalam berbagai kegiatan konservasi dan penanganan konflik satwa di Lampung.
“Gajah Indra bukan hanya satwa binaan, tetapi bagian dari sejarah panjang konservasi Gajah Sumatera di Way Kambas,” ujar Zaidi, Rabu (24/6/2026).
Indra mulai bergabung dengan Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas sejak tahun 1995. Selama lebih dari tiga dekade, ia terlibat dalam berbagai tugas penting, mulai dari patroli kawasan hutan, evakuasi gajah liar, hingga membantu mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar.
Namun, kondisi kesehatannya mulai menurun setelah mengalami kecelakaan lalu lintas pada akhir tahun 2017. Saat itu, kendaraan yang mengangkut Indra mengalami kecelakaan ketika kembali dari tugas penanganan konflik satwa di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya dugaan cedera serius pada tulang belakang yang memengaruhi kemampuan gerak serta kondisi fisiknya secara keseluruhan. Sejak kejadian tersebut, Indra dipensiunkan dari seluruh aktivitas lapangan dan menjalani perawatan intensif di Way Kambas.
Meski mendapatkan terapi dan pemantauan rutin dari tim dokter hewan TNWK, kondisi fisik Gajah Indra terus mengalami penurunan seiring bertambahnya usia dan dampak cedera yang dideritanya.
Kondisi kritis terjadi pada Minggu (21/6/2026) sore. Setelah menjalani aktivitas mandi rutin di area rawa, Indra tiba-tiba ambruk saat hendak kembali ke kandangnya. Sejak saat itu, ia tidak mampu berdiri kembali.
Tim penyelamat yang terdiri dari mahout dan sejumlah gajah jinak lainnya sempat berupaya memberikan bantuan. Namun setelah bertahan lebih dari 20 jam dalam kondisi kritis, Gajah Indra akhirnya mati pada Senin (22/6/2026) pukul 11.06 WIB.
Untuk mengetahui penyebab pasti kematiannya, Balai TNWK melakukan nekropsi atau bedah bangkai yang turut disaksikan unsur kepolisian, TNI, serta Polisi Kehutanan. Sejumlah sampel organ juga telah diambil untuk menjalani pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.
Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai dilakukan, jenazah Gajah Indra dimakamkan di area khusus yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Way Kambas.
Kepergian Gajah Indra meninggalkan duka mendalam bagi para mahout, petugas konservasi, dan seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam upaya pelestarian Gajah Sumatera di Indonesia.(æ/red)





