BANTUL, BeritaTKP.com – Kasus seorang ibu berinisial TKS (25) yang melakban tangan, kaki, dan mulut putrinya yang berusia tiga tahun di Bantul tidak berlanjut ke proses hukum. Suami sekaligus ayah korban, RF (29), memilih memaafkan istrinya dan menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan.
Kepolisian menyebut keputusan tersebut diambil setelah pemeriksaan terhadap pihak keluarga. RF sebagai wali korban menyatakan tidak ingin melaporkan istrinya dan berkomitmen memperbaiki kondisi rumah tangga mereka.
Menurut keterangan polisi, suami korban menilai peristiwa tersebut tidak perlu dibawa ke jalur hukum. Keluarga memilih menyelesaikannya melalui pendekatan kekeluargaan dengan harapan kondisi keluarga dapat kembali membaik.
Di sisi lain, keluarga juga menilai tindakan TKS dipengaruhi oleh kondisi psikologis yang sedang terganggu. Mereka menduga TKS mengalami tekanan mental akibat kelelahan mengurus anak seorang diri serta masih beradaptasi dengan peran sebagai ibu.
Kondisi tersebut oleh keluarga dikaitkan dengan gejala yang sering dikenal sebagai baby blues, yaitu gangguan emosional yang dapat muncul pada perempuan setelah melahirkan. Faktor kelelahan, stres, dan kurangnya dukungan dalam pengasuhan anak disebut menjadi pemicu yang perlu mendapat perhatian.
Sebelumnya, warga di wilayah Kedaton, Pleret, Bantul, sempat dihebohkan dengan penemuan seorang balita yang berada sendirian di rumah kontrakan dalam kondisi tangan, kaki, dan mulut terlilit lakban. Peristiwa itu kemudian dilaporkan kepada pihak berwenang untuk dilakukan penyelidikan.
Setelah dilakukan pemeriksaan, polisi memperoleh keterangan dari keluarga bahwa tidak ada keinginan untuk membawa kasus tersebut ke proses pidana. Dengan adanya kesepakatan dari pihak keluarga dan suami sebagai wali korban, penyelesaian akhirnya ditempuh melalui jalur kekeluargaan.
Meski demikian, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya dukungan psikologis bagi orang tua, khususnya ibu yang menghadapi tekanan dalam pengasuhan anak. Kelelahan fisik dan mental yang tidak tertangani dapat berdampak pada kondisi emosional dan berpotensi memengaruhi keselamatan anak.
Pihak keluarga berharap kejadian serupa tidak terulang dan kondisi psikologis TKS dapat segera pulih melalui dukungan dari orang-orang terdekat.(æ/red)





