BANGKALAN BERITA TKP.COM – Pembacokan yang menimpa tiga korban di Jalan Halim Perdanakusuma, Bangkalan,Rabu (5/4) menyesakkan dada.Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sama-sama prihatin.Semua pihak diimbau agar bisa menahan diri demi kondusivitas daerah.
Ketua PCNU Bangkalan Makki Nasir menyatakan, peristiwa memilukan itu harus dijadikan introspeksi agar tidak terus saling menyalahkan. Momen Ramadan hendaknya dijadikan kesempatan meningkatkan spiritualitas agar tidak menjadi golongan orang yang merugi.
Agar tidak termasuk golongan itu tidak hanya dengan beramal saleh,melainkan harus saling menasihati. ”Syaratnya adalah menjaga kondusivitas. Karena,bagaimana kita mau menasehati kalau tidak kondusif,” ujarnya kemarin (6/4).
Kiai Makki mengimbau para kontestan dan pendukung pesta demokrasi tingkat desa berkompetisi dengan sehat. Sebab,pada dasarnya persaingan dalam pesta demokrasi itu hal biasa.”Intinya harus ber-fastabiqul khairat dan bersaing secara baik,”sambung pria yang juga ketua MUI Bangkalan tersebut.
Ketua Pengurus Daerah (PD) Muhammadiyah Bangkalan Rik Suhadi sangat prihatin atas insiden pembacokan tersebut.Apalagi peristiwa itu memakan korban jiwa.Menurut dia, seharusnya di bulan suci Ramadan ini semua pihak mampu menahan diri.
Rik berharap semua pesta demokrasi dari tingkat atas hingga ke tingkat paling bawah bisa berjalan secara demokratis dan aman.Sehingga, warga dapat memilih calon pemimpin yang bisa dijadikan panutan dan membawa masyarakat lebih maju.
”Warga harus semakin dewasa. Karena pada dasarnya setiap pemilihan merupakan ruang dan kesempatan bagi kita untuk bisa mendapatkan pemimpin yang bisa membawa ke arah yang lebih baik,” katanya.
Rik menambahkan, pembacokan yang mengakibatkan korban tewas tidak hanya membawa kerugian bagi dua pihak yang berseteru.Tapi, juga berdampak negatif terhadap daerah.Karena itu, pihaknya berharap semua elemen menjaga kondusivitas.
”Akhirnya daerah kita ini akan sulit untuk berkembang. Padahal pemerintah memiliki semangat untuk menjadikan Bangkalan sebagai daerah ramah investasi,” katanya.
Selama ini, kata dia, peristiwa serupa sering terjadi saat pelaksanaan pesta demokrasi tingkat bawah.Untuk menekannya, pemerintah harus bergandengan tangan bersama semua elemen. Mulai dari tokoh masyarakat hingga dengan instrumen keamanan,yaitu polisi.”Bangkalan dapat menjadi contoh yang baik bagi kota-kota yang lain,” jelasnya.
Peristiwa berdarah itu menyebabkan tiga warga Desa Bator, Kecamatan Klampis,menjadi korban.Yakni, M. Mayyis Abdullah, 51; Amiluddin, 60; dan Rifa’i Rohman, 50.Mayyis meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP).Dia mengalami luka bacok di tangan kanan, lengan kanan, pinggang kanan, punggung, dan perut. Sementara Amiluddin mengalami luka bacok pada kepala dan perut. Sedangkan Rifa’i Rohman luka bacok pada kepala kanan dan punggung.
Hingga tadi malam, Polres Bhayangkara belum menetapkan tersangka.Lebih 20 saksi sudah dimintai keterangan. Beberapa barang bukti (BB) juga diamankan.Terdiri atas berbagai jenis senjata tajam (sajam) dan berbagai merek kendaraan bermotor (ranmor) R4.Empat di antaranya Fortuner hitam B 2851 SJF, Innova hitam M 605 KU, Innova hitam M 1864 HZ, dan Innova silver stone B 1851 EFN.
Kasatreskrim Polres Bangkalan AKP Bangkit Dananjaya mengungkapkan, pihaknya sedang melakukan penyelidikan. Delapan kendaraan yang diamankan milik korban dan diduga terkait pelaku. Kendaraan-kendaraan itu diangkut dari TKP dan tempat lain.
”Kalau yang di lokasi ada tiga unit mobil yang kami amankan.Sisanya di tempat lain,yang tidak bisa kami sebutkan,” jelas perwira pertama dengan tiga balok emas di pundaknya itu.Sebagian kendaraan itu ditinggal oleh pemiliknya dalam keadaan terkunci.
Bangkit menegaskan,polisi terus bekerja. Termasuk, memburu pelaku. Sajam yang diamankan akan dicocokkan setelah pelaku berhasil ditangkap. ”Kami akan sampaikan hasilnya,” tegas Bangkit.
Di tengah proses penyelidikan yang dilakukan polisi, beredar video beberapa orang membawa sajam mendatangi rumah warga meminta sang tuan keluar. Satu dari mereka memecahkan kaca jendela.Selain itu, beredar foto tragis yang memperlihatkan kepala seorang lelaki berbaju hitam dengan kondisi celurit yang masih tertancap di kepala. ”Tidak benar. Sampai saat ini belum ada laporan yang masuk,” tandas alumnus Akpol 2012 itu.
Kapolres Bangkalan AKBP Wiwit Ari Wibisono membenarkan insiden tersebut ada berkaitan dengan pemilihan kepala desa (pilkades).Dia mengimbau semua pihak mencari solusi terbaik jika ada persoalan dalam tahapan pilkades.Semua pihak harus bisa menahan diri untuk tidak melanggar hukum dan merugikan.
”Mari bersama-sama menjaga keamanan, kenyamanan,dan kondusivitas wilayah dalam tahapan hingga hari H pilkades,” harap perwira menengah (pamen) dua melati emas di pundak alumnus Wicaksana Laghawa itu.
Anggota Komisi A DPRD Bangkalan Muhammad Hotib menjelaskan, pilkades sudah diatur dalam Undang-Undang Desa 6/2014 dan Permendagri 72/2020 tentang Perubahan Kedua atas Permendagri 112/2014.Menurut dia, banyak calon kecewa karena jika calon lebih lima orang harus ada ujian tambahan.
”Itu yang sebenarnya menjadi pemantik. Seandainya tidak ada batasan maksimal, kemungkinan tidak akan terjadi persoalan di bawah,” katanya.
Hotib menambahkan, agar persoalan yang terus-menerus terjadi itu reda, harus ada revisi atas aturan tersebut.Tensi pesta demokrasi tingkat desa ini begitu besar dibandingkan dengan pileg, pilkada,dan semacamnya.
”Ketika ada revisi atas aturan pilkades,saya yakin, tidak ada persoalan. Ujung-ujungnya masyarakat yang menjadi korban.Itu yang tidak kita inginkan,” tegasnya. (IMAM H)





