MAROS, BeritaTKP.com – Kabar duka datang dari seorang warga negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Valenth A Tambuto (24) ditemukan meninggal dunia di kamar mes pekerja sebuah perusahaan di Kota Yerevan, Armenia.

Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan tangan, kaki, dan mulut diduga terikat menggunakan lakban. Keluarga menduga Valenth menjadi korban tindak pembunuhan, namun hingga kini masih menunggu hasil penyelidikan resmi dari pihak berwenang Armenia.

Adik korban, Arnold Tambuto, membenarkan kabar meninggalnya sang kakak. Menurutnya, Valenth bekerja di Armenia sebagai tenaga IT di sebuah perusahaan konsultan teknologi informasi.

“Iya benar kakak saya yang meninggal di Armenia. Almarhum bekerja di sana di bidang IT di perusahaan konsultan IT,” ujar Arnold.

Terakhir Berkomunikasi Sebelum Ditemukan Tewas

Arnold mengatakan, komunikasi terakhir dirinya dengan Valenth terjadi pada Rabu (15/7/2026) dini hari sekitar pukul 01.00 WITA atau Selasa malam waktu Armenia.

Setelah komunikasi tersebut, korban tidak lagi dapat dihubungi melalui aplikasi pesan maupun telepon.

Keluarga kemudian mengetahui kabar kematian Valenth setelah mendapat informasi dari pihak kerabat. Kabar tersebut bermula dari kekasih korban, Tati, yang berada di Filipina, merasa curiga karena tidak bisa menghubungi Valenth sepanjang hari.

Karena khawatir, kekasih korban meminta rekan kerja Valenth untuk mengecek kondisi korban di kamar mes.

“Pacarnya minta dicek ke teman kantornya Valenth di kamar karena biasanya mereka komunikasi hampir tiap jam. Waktu dicek, katanya ada orang di dalam tertutup selimut seperti sedang tidur. Setelah dibuka ternyata sudah tidak bernyawa,” ungkap Arnold.

Ditemukan dengan Kondisi Terikat

Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, kondisi korban saat ditemukan cukup mengenaskan. Valenth disebut ditemukan dengan kondisi tangan, kaki, dan mulut terikat lakban.

Arnold juga menyebut dirinya mendapat informasi adanya darah di sekitar jenazah saat korban ditemukan.

“Kondisi jenazah katanya terikat lakban. Kaki, tangan, dan mulut itu terikat lakban. Waktu itu saya syok, saya matikan telepon saya tidak dengar jauh lagi, tapi infonya memang waktu dibuka ada banyak darah,” katanya.

Meski demikian, keluarga masih menunggu keterangan resmi dari otoritas Armenia terkait penyebab pasti kematian Valenth.

Keluarga Koordinasi dengan KBRI

Arnold mengatakan, pihak keluarga memperoleh informasi dari sejumlah kerabat dan orang terdekat korban yang mengarah pada dugaan pembunuhan.

Namun, ia menegaskan bahwa informasi tersebut masih berupa dugaan berdasarkan kabar yang diterima keluarga, bukan hasil resmi penyelidikan.

“Memang informasi itu (pembunuhan) banyak yang menyebutkan. Kami dapat informasi dari beberapa kerabat dekat dan juga dari pacar almarhum sendiri,” ujarnya.

Saat ini keluarga masih berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai proses penyelidikan serta pemulangan jenazah ke Indonesia.

Keluarga berharap jenazah Valenth dapat segera dipulangkan ke kampung halaman di Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, agar dapat dimakamkan oleh keluarga.(æ/red)