Kepala cabang bank BUMN, Vicco Raditya Aurora Wasista

Larantuka, BeritaTKP.com – Seorang nasabah bank BUMN di Larantuka mengalami kejadian mengejutkan setelah uang dalam rekeningnya hilang secara misterius usai menerima telepon dari seseorang yang mengaku sebagai pegawai bank.

Korban berinisial YBK, warga Desa Riang Koli, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, menyadari tabungannya berkurang pada Sabtu, 11 April 2026. Dari saldo awal sekitar Rp27 juta, tiba-tiba menyusut menjadi Rp21 juta.

Sebelum kejadian tersebut, YBK sempat menerima panggilan telepon dari pihak tak dikenal yang mengaku sebagai pegawai bank dan memintanya mengecek saldo rekening. Tak lama setelah itu, uang sebesar Rp6 juta diketahui telah hilang.

“Kurang lebih enam juta rupiah hilang. Saya merasa sangat dirugikan,” ujar YBK.

Merasa ada kejanggalan, ia langsung mendatangi kantor cabang bank di Kelurahan Lokea pada Senin (13/4/2026) untuk meminta penjelasan dan pengembalian dana.

Ia menilai kejadian tersebut sebagai bentuk kelalaian sistem keamanan bank. Menurutnya, tidak masuk akal jika saldo dapat berkurang tanpa adanya transaksi yang disadari oleh pemilik rekening.

“Bagaimana sistem keamanan bank ini, kok bisa saldo saya jebol tanpa sepengetahuan saya?” keluhnya.

Karena khawatir kejadian serupa terulang, YBK memilih memindahkan sisa uangnya ke rekening lain milik keluarganya. Kepercayaan terhadap layanan perbankan pun mulai goyah akibat insiden tersebut.

Sementara itu, Kepala Cabang bank BUMN setempat, Vicco Raditya Aurora Wasista, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan internal terhadap transaksi yang dipermasalahkan.

Menurut hasil sementara, transaksi tersebut tercatat sah dalam sistem karena menggunakan kode OTP (One Time Password) yang dikirim ke nomor ponsel nasabah.

“Setiap transaksi hanya bisa dilakukan jika OTP dimasukkan. Tanpa itu, transaksi tidak akan berhasil,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa OTP bersifat rahasia dan tidak boleh dibagikan kepada siapa pun, termasuk kepada pihak yang mengaku sebagai pegawai bank.

“Kami tidak pernah meminta OTP. Jika kode itu diketahui pihak lain, berarti ada kelalaian dari sisi nasabah,” tegasnya.

Meski demikian, pihak bank memastikan akan tetap melakukan investigasi lebih lanjut. Nasabah diminta melengkapi bukti pendukung, termasuk riwayat pesan OTP dan detail waktu transaksi.

Bank juga menegaskan hingga saat ini tidak ditemukan adanya kebocoran sistem. Kasus ini lebih mengarah pada faktor keamanan data pribadi nasabah.

Sebagai langkah pencegahan, pihak bank terus mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada panggilan atau pesan mencurigakan yang mengatasnamakan institusi perbankan.

“Kami akan terus mengedukasi nasabah agar menjaga kerahasiaan data pribadi, khususnya OTP, demi keamanan rekening,” pungkasnya.(æ/red)