Nganjuk, BeritaTKP – Seorang sumber berkata bila proyek bronjong pengaman sungai yang lokasi pengerjaannya di Desa Jintel, Kec. Rejoso, Kab. Nganjuk beberapa bulan lalu itu rusak karena tertimpa hujan deras pada suatu hari yang silam . Masalah ini pernah dibicarakan dan dirapatkan pada salah satu Balai Desa yang hadir pula instansi terkait termasuk dari PU juga, bahwa hal itu masih dalam tahap tanggung jawab dari pihak kontraktor ” ucapnya kala itu ” .
Berdasarkan informasi dari pihak Pemeritahan Desa dahulu bahwa masyarakat sekitar mintanya pada pertengahan bulan Februari 2026 lalu bahwa jalan antar desa ini bisa dimanfaatkan saat musim panen kemarin agar lancar dilalui tanpa adanya hambatan .
Seringkali Berita TKP melewati lokasi tersebut menurut masyarakat dinilai jika pembangunan bronjong yang dulu dulu dianggapnya kurang memadahi kwalitasnya karena batunya dibiarkan berserakan kemana mana, kata warga tak dikenal yang berada disitu ” anggap saja pada bangunan awal gagal program atau kesalahan tehnis pada bronjong yang lama sehingga meskipun sekarang diadakan bronjong lagi diatasnya tetap dalam posisi yang tidak aman, mesti akan longsor kebawah ( bahasa jawa mlorot ) karena gerusan air saban harinya terus menerus mengikis tanah dasar, namun Dinas PU dari Provinsi kala itu tak memperhitungkan serta memikir apabila kondisi tanah gerak selalu terbawa oleh tekanan air berakibat pada belokan terus menggerus tanahnya ” .
Didapatkan informasi dari KmJ ( Red ) pada Selasa, 21 April 2026 pukul 11’32 Wib. jika bangunan tersebut memang dari provinsi yang sampai ini belum tuntas, karena ternyata hingga sampai sekarang masih ambles terus hingga menjadikan beban bagi si penerima kontrak yang sekarang .
Seseorang berinitial O ( Red ) dari Pemeritah Wilayah Rejoso pada Selasa, 21 April 2026 pukul 12’14 Wib. kepada awak media ini berkata bahwa sebenarnya bronjong tersebut sudah baik hanya karena pembangunan sungai tersebut masuk siklus 20 tahun sekali, ya namanya siklus tetap dilasanakan perbaikan, ini sudah dua kali berarti 40 tahunan dilakukan . Itu sudah terjadi perubahan pengalihan alur sungai berkali kali, dulu malah tidak begitu kondisinya . Satu satu solusi terbaik kalau menurut saya yaitu harus memindahkan akses jalan digeser ke barat menerjang areal persawahan, dan itu sudah ada sekarang mulai juga bisa dilalui tetapi belum secara umum, sementara ini dapat dilintasi yaitu kendaraan roda dua dan traktor tapi kalau roda empat belum bisa ” paparnya ” . ( tut )





