Surabaya, BeritaTKP.Com – Dinas Sosial Kota Surabaya rutin melakukan razia terhadap PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial) di Kota Surabaya setiap harinya. Tujuan dilakukan razia ini agar PMKS seperti tuna wisma, pengemis, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) maupun gelandangan ini tidak membuat kumuh wajah Kota Surabaya.

Salah satu gelandangan yang dibawa ke Liponsos Keputih oleh petugas Sapol PP

Kasi Rehabilitasi Tuna Sosial Dinsos Kota Surabaya Agus Rosyid mengaku, pihaknya seringkali melakukan razia PMKS di kawasan wilayah perbatasan Kota Surabaya. Pasalnya, banyak dari mereka yang lebih memilih berkeliaran di kawasan tersebut karena jauh dari razia petugas.

“Banyak dari mereka yang ada di kawasan penyangga, misalnya Surabaya yang berdekatan dengan Gresik, Surabaya yang berbatasan dengan Sidoarjo dan Surabaya yang berdekatan dengan Madura karena tempat-tempat itu dirasa aman buat mereka. Kalau di tengah kota atau berbatasan dengan kota sering kali mereka takut kepada petugas,” pungkasnya, Kamis (22/4).

Seperti saat dilakukan razia di kawasan Kalimas Baru, Surabaya Utara,  Rabu kemarin. Pihaknya menemukan dua orang tuna wisma. Keduanya langsung dikembalikan ke tempat asalnya. “Sebetulnya kami lakukan 24 jam untuk memantau PMKS dengan membagi petugas ke lima wilayah di Surabaya. Tujuannya agar mereka bisa kami angkut dan kembalikan ke tempat asalnya,” pungkasnya.

Agus menjelaskan, dalam setiap razia pihaknya dibantu oleh tim dari Satpol PP, BPB Linmas, hingga Dinas Kesehatan (Dinkes). Ketika didapati PMKS pihaknya langsung membawanya ke Liponsos Keputih untuk dilakukan asesmen. “Mereka diasesmen terkait awal mula melakukan perbuatan PMKS. Kalau memang tersesat misalnya kami langsung kembalikan ke tempat asalnya. Kalau mereka memang sudah lama dengan alasan gak punya rumah, kami akan lakukan pembinaan di Liponsos. Kalau lansia kami bawa ke griya Weda, dan kalau anak-anak akan kami bawa ke Kampung Anak Negeri untuk dibina,” terangnya

Dalam sebulan ini menurut Agus ada tren penurunan PMKS yang ada di Surabaya. Indikator penuran itu berdasarkan hasil razia yang pihaknya lakukan. Tolak ukurnya peningkatan biasa dalam razia kedapatan lima hingga 10 orang. Namun saat ini hanya dua sampai tiga orang. “Mereka rata-rata dari luar Surabaya. Tapi saat ini ada tren penurunan di jalanan,” pungkasnya

Agus menyebut, jumlah penghuni UPT Liponsos Keputih Surabaya, per 21 April jumlah penghuninya mencapai 875 orang. Rinciannya ODGJ sebanyak 742 orang, gelandangan pengemis 56 orang, lansia 59 orang, anjal  5 orang, orang terlantar 13 orang. “Harapan kami dengan razia PMKS ini warga bisa merasa nyaman tidkak merasa terganggu,” ungkapnya. SD/Red