Bangkalan, Berita TKP. com — Pelaksanaan proyek irigasi Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi P3-TGAI atau Perkumpulan Petani Pemakai Air P3A di Kabupaten Bangkalan menuai kritik keras. Ketua Forum Pemuda Bangkalan MK. beserta jajarannya menyoroti indikasi ketidaksesuaian pengerjaan fisik di lapangan dengan Rencana Anggaran Biaya RAB serta juknis yang telah ditetapkan.

Indikasi penyimpangan pengerjaan proyek irigasi P3A/P3-TGAI yang diduga tidak sesuai RAB dan petunjuk teknis juga tidak memasang papan proyek atau papan nanam Ketua Forum Pemuda Bangkalan MK. beserta jajarannya sebagai pihak penyorot; Balai Besar Wilayah Sungai BBWS dan pendamping lapangan sebagai pihak pengawas Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. (25/7/2026)

Masa pelaksanaan pengerjaan fisik proyek irigasi P3A saat ini Diduga akibat lemahnya pengawasan dari pendamping teknis dan pihak BBWS, serta adanya praktik pengalihan pengerjaan demi efisiensi biaya yang menabrak aturan.

Pengerjaan diduga mengurangi volume fisik, menggunakan material tak standar, mengabaikan pondasi dasar, serta mengalihkan sistem swakelola ke, pemborong pihak ketiga.

Modus Penyimpangan di Lapangan Berdasarkan hasil pemantauan dan temuan Forum Pemuda Bangkalan, MK. terdapat beberapa modus penyimpangan teknis yang marak terjadi di lapangan wilayah bangkalan Material Tidak Sesuai Spesifikasi Penggunaan batu lokal seadanya hingga batu kapur berkualitas rendah yang tidak memenuhi standar teknis RAB.

Galian Pondasi Pasangan batu saluran air dipasang langsung di atas tanah datar tanpa adanya struktur galian pondasi dasar yang memadai Pengurangan Volume Bangunan: Ketebalan dan kedalaman fisik dinding saluran air dibuat lebih tipis dari spesifikasi gambar perencanaan.

Pelanggaran Sistem Swakelola Proyek yang seharusnya dikerjakan secara padat karya oleh kelompok petani setempat swakelola diduga kuat dialihkan atau diborongkan kepada pihak ketiga.

Dampak dan Potensi Kerugian Pengerjaan yang asal asalan ini berpotensi besar merugikan masyarakat petani. Saluran air dikhawatirkan berumr jagung mudah retak, dan ambruk karena tidak mampu menahan tekanan tanah serta debit air.

“Kondisi ini terjadi akibat minimnya kontrol dan pengawasan ketat dari pendamping lapangan maupun instansi terkait, dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungai BBWS” tegas pihak Forum Pemuda Bangkalan.

Forum Pemuda Bangkalan mengimbau masyarakat di tingkat desa untuk turut aktif melaporkan jika menemukan indikasi pengerjaan proyek P3A yang bermasalah di wilayahnya agar dapat ditindaklanjuti secara hukum dan prosedural.”(imm/Hs)