Sitaro, BeritaTKP.com — Tim SAR gabungan kembali menemukan satu korban banjir bandang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Korban adalah seorang bocah berusia tiga tahun bernama Claiton Tatambihe, yang sebelumnya dilaporkan hilang sejak banjir bandang melanda wilayah tersebut.
Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu (7/1/2026) sekitar pukul 13.34 Wita. Jasad Claiton ditemukan tertimbun di rumahnya di Kampung Laghaeng, Kecamatan Siau Barat Selatan.
Dengan penemuan ini, jumlah korban meninggal akibat banjir bandang Sitaro bertambah menjadi 17 orang.
Humas Basarnas Sulawesi Utara Nuriadin Gumeleng mengatakan, pencarian korban masih terus dilanjutkan. Hingga kini, masih ada dua warga yang dilaporkan hilang, masing-masing bernama Adris Pianaung dan Leon Pianaung, warga Kampung Bahu.
Proses pencarian dan evakuasi melibatkan tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, serta dibantu masyarakat setempat.
Sebelumnya, banjir bandang menerjang Pulau Siau pada Senin (5/1/2026) sekitar pukul 02.45 Wita, setelah hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut selama lebih dari lima jam tanpa henti. Aliran air bercampur material lumpur dan batu menerjang permukiman warga, menyebabkan korban jiwa, luka-luka, serta kerusakan parah pada rumah dan fasilitas umum.
Sejumlah wilayah terdampak meliputi Kelurahan Bahu, Paniki, Paseng, serta Kampung Bumbiha, Peling, Laghaeng, Batusenggo, Beong, dan Salili.
Selain menelan korban jiwa, banjir bandang juga merusak infrastruktur. Beberapa akses jalan terputus, bangunan kantor dan fasilitas umum rusak, serta ratusan warga terpaksa mengungsi. Pendataan kerugian materiil masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi selama 14 hari, terhitung mulai 5 hingga 18 Januari 2026, guna mempercepat penanganan dan pemulihan wilayah terdampak.
Hingga saat ini, penanganan darurat masih difokuskan pada pencarian korban hilang, evakuasi warga, serta pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi. Pemerintah dan aparat terkait mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi di wilayah Sulawesi Utara.(æ/red)





