Surabaya, BeritaTKP.Com – Selama diterapkan PPKM Darurat mulai 3juli, mobilitas warga Surabaya yang biasanya memadati jalanan saat ini berkurang. Mengingat pengetatan dan penutupan akses jalan utama seperti Jalan Ahmad Yani (Bundaran Waru), Raya Darmo, Tunjungan, Pemuda, dan Mastrip. Jalanan itu ditutup selam 24 jam sehingga berpengaruh pada kualitas udara di Surabaya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya Agus Eko Supiadi mengatakan, selama penutupan akses jalan karena kebijakan PPKM Darurat kualitas udara di Surabaya lebih bagus dari hari biasa sebelum penyekatan berlangsung. “Indeks kualitas udara (IKU) di Surabaya saat ini lebih baik, nilainya di bawah 40. Tidak lagi sedang yang seperti hari-hari biasanya,” ujarnya.
Agus menyebut IKU di Surabaya baik sejak hari kedua setelah diberlakukannya penyekatan. Hal yang sangat mendasar berpengaruh pada IKU Kota Surabaya yakni mobilitas kendaraan, selain itu aktivitas industri seperti pabrik. Meskipun saat ini sudah memasuki musim kemarau.
“Sumber emisi terbesar yang mempengaruhi kualitas udara yang dihasilkan di jalanan dipengaruhi oleh transportasi (kendaraan bermotor). Jadi saat jalanan lengang otomatis kualitas udara lebih baik, karena pengaruhnya pada kendaraan bermotor,” terangnya.
Dirinya memastikan kualitas udara dalam kategori lebih baik tersebut mempengaruhi udara di semua wilayah di Surabaya. “Kualitas udara dalam kategori lebih baik ini tidak hanya di pusat kota (jalan protokol), namun juga berpengaruh pada udara di semua wilayah di Surabaya,” jelasnya.
Pemantauan kualitas udara yang ada di Surabaya terlihat dari monitor ISPU itu berada dari alat Stasiun Pemantaui Kualitas Udara Ambien (SPKU) Automatis. Alat ini dipasang di tiga tempat, satu diletakkan di Wonorejo, kedua di Kebonsari dan yang ketiga bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup diletakkan di Tandes.
Agus menyebut, SPKU di Wonorejo dan Kebonsari dapat memantau parameter iklim, yaitu arah dan kecepatan angin, kelembaban udara, suhu udara, dan global radiasi. Pihaknya juga menggunakan alat dan pemantau udara portabel yang dipasang secara bergantian di setiap wilayah tiap bulannya.
Dan akhirnya pemasangan alat tersebut secara bergantian berdasarkan sample udara tiap bulan. Alat tersebut rencananya akan bertambah karena mengingat per wilayah juga perlu untuk pemantau kualitas udara. “Mungkin nanti akan ditambah secara bertahap,” tandasnya. (Red)




