PROBOLINGGO, BeritaTKP.com – Dua petugas yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, masih dalam kondisi kritis akibat luka bakar berat. Keduanya, Musnawi dan Suraji, telah dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengatakan pihaknya terus memantau kondisi kedua korban dan berkoordinasi dengan rumah sakit serta instansi terkait guna memastikan penanganan medis yang diperlukan.

Sementara itu, empat petugas lainnya meninggal dunia dalam insiden saat proses pemadaman api di Blok Pusung Lingker, Kabupaten Probolinggo.

Dua Korban Dirujuk ke Surabaya

Sebelum dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo, Musnawi dan Suraji sempat mendapatkan penanganan darurat di RSUD Tongas, Probolinggo.

Rudijanta menyatakan Balai Besar TNBTS akan terus berkoordinasi dengan pihak rumah sakit untuk memantau perkembangan kondisi kedua petugas tersebut.

Peristiwa ini menjadi duka bagi para petugas yang terlibat dalam upaya pemadaman karhutla di kawasan Bromo.

Empat petugas yang meninggal dunia dalam insiden tersebut adalah Sukaris, Wisnu Yuda Pratama, Sefriel Ardiansyah, dan Hendra Rony Wagiyanata.

Kebakaran Bermula dari Lahan Warga

Berdasarkan keterangan Balai Besar TNBTS, laporan awal kebakaran diterima pada Selasa (13/10/2026) pukul 14.23 WIB. Titik api terdeteksi di ladang warga sekitar Blok Pusung Dawa, Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo, yang berbatasan langsung dengan kawasan TNBTS.

Tim gabungan TNBTS dan perangkat desa kemudian dikerahkan untuk memadamkan api. Namun, akses menuju lokasi yang sulit serta terbatasnya ketersediaan air membuat petugas harus melakukan pemadaman secara manual menggunakan peralatan tradisional.

Pada Rabu (14/10/2026), sekitar pukul 11.45 WIB, api dilaporkan sempat menjalar ke kawasan taman nasional sebelum berhasil dikendalikan oleh tim lapangan.

Angin Kencang Diduga Memicu Situasi Berbahaya

Ancaman kebakaran kembali muncul pada Kamis (15/10/2026). Posko Cemoro Lawang mendeteksi asap tebal di titik yang sama sehingga personel tambahan dikerahkan untuk membantu pemadaman dan membuat sekat bakar.

Sekitar pukul 13.00 WIB, angin kencang dilaporkan memicu kobaran api membesar dan berubah arah dengan cepat. Kondisi tersebut membuat sejumlah personel terjebak di tengah kebakaran.

Dalam laporan Balai Besar TNBTS, lima petugas berhasil mencapai area aman, sedangkan enam lainnya terjebak. Insiden tersebut mengakibatkan empat orang meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka bakar berat.

Penanganan terhadap dua korban yang masih kritis terus dilakukan, sementara penyebab dan rangkaian lengkap insiden masih menjadi perhatian pihak terkait.(æ/red)