
BLORA, BeritaTKP.com – Penggunaan minyak goreng bersubsidi MinyaKita di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogowanti, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, menjadi perhatian dan memicu evaluasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pasalnya, mitra penyedia makanan dalam program MBG diwajibkan menggunakan bahan baku dengan standar kualitas premium untuk menjaga mutu makanan yang diberikan kepada penerima manfaat.
Pemilik SPPG Bogowanti, Sumining, membenarkan bahwa dapurnya sempat menggunakan MinyaKita dalam proses memasak menu MBG. Minyak tersebut diperoleh dari pemasok bahan pangan yang selama ini bekerja sama dengan pihaknya.
“Iya, kami memang menggunakan MinyaKita. Barangnya kami ambil dari supplier yang biasa memasok kebutuhan dapur,” ujar Sumining.
Ia menjelaskan, sebelumnya dapur SPPG Bogowanti rutin menggunakan minyak goreng premium merek Sunco. Pergantian ke MinyaKita dilakukan setelah melihat beberapa mitra penyedia MBG lain menggunakan produk tersebut.
“Awalnya kami selalu memakai Sunco. Tetapi setelah melihat beberapa mitra lain menggunakan MinyaKita, akhirnya kami ikut beralih,” katanya.
Menurut Sumining, penggunaan MinyaKita tersebut baru berlangsung sejak pekan lalu dan bukan berdasarkan instruksi dari penyelenggara program.
Tidak Sesuai Standar MBG
Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Blora, Artika Diannita, menegaskan bahwa penggunaan minyak goreng bersubsidi tidak sesuai dengan ketentuan operasional program MBG.
“Seharusnya tidak menggunakan MinyaKita. Standar kami jelas, bahan baku yang dipakai untuk memasak harus berkualitas premium agar mutu makanan tetap terjaga,” tegas Artika.
Menurutnya, standar bahan baku diterapkan untuk memastikan kualitas gizi, keamanan pangan, dan konsistensi makanan yang diberikan kepada siswa.
Pihak SPPG Blora akan melakukan pembinaan kepada mitra yang masih menggunakan bahan baku di luar ketentuan.
“Kami akan memberikan pembinaan dan mengingatkan seluruh mitra agar kembali mematuhi ketentuan yang berlaku. Ke depan tidak boleh lagi menggunakan minyak goreng bersubsidi dalam proses memasak menu MBG,” ujarnya.
Jadi Bahan Evaluasi
Kepala SPPG Bogowanti, Putri, juga membenarkan bahwa MinyaKita sempat digunakan di dapur produksi. Namun, ia menyebut penggunaannya belum berlangsung lama.
“Memang sempat digunakan, tetapi baru beberapa hari,” katanya.
Temuan tersebut kini menjadi bahan evaluasi bagi pengelola MBG di Kabupaten Blora. Pengawasan terhadap penggunaan bahan baku akan diperketat agar seluruh dapur penyedia makanan mengikuti standar yang telah ditetapkan.
Pihak SPPG menegaskan kualitas bahan makanan menjadi perhatian utama agar program MBG dapat berjalan sesuai tujuan dan memberikan makanan bergizi yang aman bagi penerima manfaat.(æ/red)





