
Jakarta, BeritaTKP.com – Sebuah duka mendalam menyelimuti warga RW 04, Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan. Seorang balita berinisial I (4) meninggal dunia secara tragis setelah terperosok ke dalam lubang fondasi proyek pembangunan Lapangan Multifungsi di Jalan Manggarai Utara II pada Sabtu malam (27/6/2026).
Proses evakuasi yang memakan waktu hampir tujuh jam, sejak pukul 21.00 WIB hingga 04.00 WIB dini hari, berakhir dengan kepedihan setelah korban dinyatakan tidak tertolong.
Jerit Tangis yang Menghantui Ayah
Kisah pilu diungkapkan oleh AB, ayah korban. Suara sang buah hati yang memanggil-manggil namanya dari dasar lubang yang sempit dan gelap masih terus terngiang di benaknya.
Dalam upaya penyelamatan yang mencekam, AB sempat berusaha berkomunikasi dengan putranya dan menjanjikan liburan ke Ancol demi memberi semangat agar sang anak tetap bertahan. Ia bahkan mencoba meminta anak sulungnya untuk menjangkau adiknya, namun ruang lubang yang hanya berdiameter sekitar 15–30 sentimeter membuat pertolongan menjadi mustahil dilakukan dengan tangan kosong.
“Ayah nanti masuk ke dalam ya, Ayah nanti angkut. Nanti kalau Ayah angkut kita pergi keluar ke Ancol. Main jalan-jalan kan mau liburan,” ucap AB dengan suara lirih, mengenang janji terakhir yang tak akan pernah terwujud.
Kelalaian Proyek yang Menjadi Sorotan
Lubang maut tersebut merupakan bagian dari pembangunan proyek lapangan multifungsi (futsal/hangar) yang didanai melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Lurah Manggarai, M. Arafat Dinsirat, mengonfirmasi bahwa proyek tersebut baru dimulai pada 25 Juni 2026, atau hanya dua hari sebelum insiden terjadi.
Kondisi keamanan di lokasi proyek menjadi sorotan tajam warga. Sudirman (42), warga setempat, menyebut bahwa area tersebut memang kerap dijadikan tempat bermain anak-anak. Lubang tersebut hanya ditutup oleh seng yang dinilai sangat tidak aman bagi anak-anak.
“Lubangnya itu pas banget di samping trotoar. Sebelumnya sudah diwanti-wanti, tapi sengnya mudah dibuka anak-anak,” ujar Sudirman.
Proyek CSR dan Tanggung Jawab Kontraktor
Kelurahan Manggarai menjelaskan bahwa sistem pengerjaan proyek ini sepenuhnya dikelola oleh perusahaan pemberi CSR, mulai dari penunjukan kontraktor hingga pelaksanaan fisik. Kelurahan hanya bertindak sebagai pengusul kebutuhan pembangunan fasilitas olahraga bagi warga untuk meredam potensi tawuran remaja.
Namun, minimnya pengamanan di area proyek yang berada tepat di tengah pemukiman padat penduduk kini memicu pertanyaan besar terkait standar operasional prosedur (SOP) keselamatan kerja bagi pihak kontraktor.
Kepergian balita I meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan warga Manggarai. Bagi AB, sang ayah, meski ia berusaha ikhlas menerima garis takdir, memori tentang putra kecilnya yang aktif dan selalu ingin berada di dekatnya akan menjadi kenangan yang takkan pernah pudar sepanjang hayat.(æ/red)





