Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Bandar Lampung semakin mengular dalam beberapa pekan terakhir 

Bandar Lampung, BeritaTKP.com – Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Bandar Lampung semakin panjang dalam beberapa pekan terakhir. Pada Jumat (26/6/2026), antrean kendaraan yang hendak mengisi Biosolar bahkan mencapai hampir satu kilometer di sejumlah titik.

Tidak hanya truk dan bus, antrean kini juga didominasi mobil pribadi bermesin diesel, termasuk kendaraan sport utility vehicle (SUV) seperti Mitsubishi Pajero Sport dan Toyota Fortuner yang sebelumnya menggunakan bahan bakar nonsubsidi.

Salah seorang pengguna mobil diesel, Fahrul, mengaku beralih ke Biosolar karena pertimbangan biaya operasional yang jauh lebih hemat.

“Kalau dihitung selisihnya jauh sekali. Biosolar Rp6.800 per liter, sementara Pertamina Dex sudah sekitar Rp25 ribu per liter. Untuk penggunaan harian tentu jauh lebih hemat,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar diesel nonsubsidi membuat banyak pemilik kendaraan memilih Biosolar sebagai alternatif.

Akibat lonjakan pengguna tersebut, sopir angkutan umum dan kendaraan logistik kini harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar. Salah seorang sopir bus antarkota, Iyus, mengaku pernah mengantre hingga lima jam.

“Kadang harus antre sampai lima jam. Padahal bus membawa penumpang dan kami dikejar jadwal keberangkatan,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat membuat kebijakan yang memprioritaskan distribusi Biosolar bagi kendaraan angkutan umum dan logistik.

Mobil Pribadi Mewah Ikut Dominasi Antrean

Pengawas SPBU di Jalan ZA Pagar Alam, Syahrial, membenarkan bahwa antrean Biosolar kini jauh lebih padat dibanding sebelumnya.

“Biasanya solar tidak seramai ini. Sekarang justru banyak didominasi mobil pribadi yang tergolong mewah,” ujarnya.

Menurutnya, kuota Biosolar yang diterima SPBU masih tetap sekitar 8.000 liter per hari. Namun, tingginya permintaan membuat stok jauh lebih cepat habis.

“Dulu stok 8.000 liter cukup sampai satu hari penuh. Sekarang setengah hari saja sudah habis.”

Ia menambahkan, antrean mulai meningkat sekitar dua bulan terakhir setelah selisih harga Pertamina Dex dengan Biosolar semakin lebar.

Permintaan Meningkat, Stok Cepat Habis

Fenomena serupa juga terjadi di SPBU kawasan Langkapura. Pengawas SPBU setempat, Efendi Wibowo, mengatakan stok Biosolar sebenarnya masih tersedia setiap hari, namun lonjakan permintaan menyebabkan antrean panjang hampir tidak pernah terhindarkan.

Menurut Efendi, sebagian besar peningkatan konsumsi berasal dari pengguna Dexlite yang beralih setelah harga bahan bakar nonsubsidi mengalami kenaikan.

Untuk menjaga agar stok tetap dapat dinikmati lebih banyak konsumen, pihak SPBU terkadang membatasi volume pembelian ketika persediaan mulai menipis.

Meski sering menerima keluhan dari sopir bus dan truk mengenai banyaknya kendaraan pribadi yang mengisi Biosolar, pihak SPBU menegaskan tidak memiliki kewenangan menolak selama kendaraan telah terdaftar melalui barcode dan memenuhi ketentuan program subsidi yang berlaku.

Lonjakan konsumsi Biosolar ini menunjukkan semakin besarnya tekanan ekonomi terhadap pengguna kendaraan diesel, sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga distribusi BBM bersubsidi agar tepat sasaran tanpa mengganggu kebutuhan sektor transportasi dan logistik.(æ/red)