BREBES, BeritaTKP.com – Video seorang relawan SPPG Kubangsari, Brebes, yang melakukan aksi debus dengan memakan kaca lampu neon viral di media sosial. Aksi tersebut ramai dibahas karena dinilai sebagian warganet seperti pamer kekuatan atau memberi kesan menantang.

Video itu menampilkan seorang relawan berada di atas mobil MBG sambil melakukan atraksi debus. Setelah tersebar luas, banyak warganet mempertanyakan maksud dari pembuatan video tersebut.

Asisten lapangan atau aslap SPPG Kubangsari, Dheny Siswanto, membantah anggapan bahwa video itu dibuat untuk menakuti pihak tertentu. Ia menegaskan bahwa video tersebut murni dibuat sebagai hiburan setelah para relawan selesai bekerja.

Menurut Dheny, tidak ada niat buruk dalam pembuatan video itu. Ia menyebut aksi tersebut dilakukan secara spontan sebagai hiburan internal, bukan untuk pamer kekuatan atau membuat pihak lain merasa terancam.

Dheny menjelaskan, video asli yang ia ambil berdurasi sekitar 58 detik dan sempat diunggah di akun SPPG sebelum Idul Adha. Pria yang terlihat dalam video tersebut diketahui bernama Alfajar alias Yayang.

Yayang merupakan relawan di bagian distribusi makanan. Ia disebut memiliki kemampuan debus dan sulap, sehingga aksi yang dilakukan dalam video tersebut merupakan bagian dari atraksi hiburan.

Dheny juga menyebut video asli sebenarnya tidak hanya berisi aksi debus. Di dalamnya juga terdapat adegan sulap, yakni atraksi mengubah ompreng kosong menjadi ompreng berisi makanan.

Namun, menurut Dheny, video yang viral di media sosial sudah tidak utuh lagi. Bagian sulap disebut telah dipotong, lalu video tersebut diberi narasi lain yang dinilai menyudutkan pihak SPPG.

Selain itu, musik dalam video viral juga disebut sudah berubah. Dheny mengatakan video asli menggunakan lagu khas tarling pantura, tetapi setelah diunggah ulang oleh pihak lain, musiknya diganti sehingga konteks video ikut berubah.

Ia menyayangkan adanya pihak yang mengunggah ulang video tersebut dengan potongan dan narasi yang berbeda dari versi awal. Menurutnya, perubahan konteks itu membuat video tersebut memunculkan tafsir negatif di tengah masyarakat.

Kasus viral ini menjadi pengingat bahwa potongan video di media sosial bisa dengan mudah berubah makna ketika tidak ditampilkan secara utuh. Meski begitu, aksi berbahaya seperti memakan kaca tetap tidak disarankan untuk ditiru karena berisiko membahayakan keselamatan.(æ/red)