Grobogan, BeritaTKP.com – Warga Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dihebohkan dengan aksi nekat seorang suami yang membelah rumahnya sendiri setelah niat rujuk dengan sang istri kandas.

Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (13/2/2026) dan terekam dalam video yang viral di media sosial. Dalam rekaman itu, pria tersebut terlihat menggergaji meja kayu dan perabot rumah tangga menggunakan gergaji mesin. Ia juga mengerahkan sejumlah tukang untuk menurunkan genteng serta membelah rumah limasan berdinding kayu menjadi dua bagian.

Penjabat Kepala Desa Mlowokarangtalun, Wahyu Hudiyono, mengatakan persoalan bermula dari keretakan rumah tangga pasangan tersebut. Mediasi sudah beberapa kali dilakukan oleh pemerintah desa, namun tidak membuahkan hasil.

“Informasinya, pihak suami telah memaafkan, asalkan tidak diulangi. Namun istrinya tak mau lagi dengan suaminya,” ujar Wahyu, Sabtu (14/2/2026).

Mediasi Gagal

Kepala Dusun Sambong, Bambang Irawan, menjelaskan bahwa pihak desa sudah tiga kali mempertemukan pasangan tersebut untuk mencari jalan damai. Bahkan pertemuan melibatkan orang tua kedua belah pihak dan perangkat desa.

Dalam mediasi, sang istri menyampaikan keberatannya karena suami kerap berkata kasar. Suami sempat membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Namun, istri tetap bersikeras untuk berpisah dan mengajukan cerai ke Pengadilan Agama.

Beberapa hari kemudian, suami menyampaikan niatnya untuk membawa rumah yang mereka tempati ke daerah asalnya di Desa Simo, Kecamatan Kradenan. Sementara istrinya merupakan warga asli Desa Mlowokarangtalun.

“Yang lakinya datang ke rumah saya dan mengatakan bahwa istrinya tidak mau rukun kembali. Selain itu, mengungkapkan rumahnya mau dibawa ke daerah asal,” jelas Bambang.

Bukan karena Perselingkuhan

Bambang juga menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan dipicu isu perselingkuhan sebagaimana narasi yang beredar di media sosial.

“Tidak selingkuh kok, itu cuma praduga saja,” tegasnya.

Ia mengaku sudah mengingatkan agar tidak ada kekerasan dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Namun karena mediasi tidak menemukan titik temu, pihak desa akhirnya tidak lagi terlibat lebih jauh dalam konflik rumah tangga tersebut.

Hingga kini, aksi membelah rumah itu masih menjadi perbincangan hangat di masyarakat dan warganet, yang menyayangkan berakhirnya rumah tangga dengan cara yang dramatis.(æ/red)