
Surabaya, BeritaTKP.com – Penyebab keracunan massal yang dialami oleh puluhan warga wilayah Kalilom Lor Indah Gg Seruni II, RT 12/RW 10, Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran, terungkap. Berdasarkan hasil penelitian Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya terhadap sampel makanan warga yang keracunan, ditemukan sejumlah bakteri Salmonella sp.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Surabaya telah menyerahkan sampel makanan dari 71 warga yang sempat dirawat karena mengalami keracunan, pada Kamis (30/6/2023) kemarin. Dalam pemeriksaan tersebut, Dinkes menyerahkan 4 sampel makanan yang sempat dikonsumsi, yakni sate daging, gulai daging, krengsengan daging, dan air mineral.
Setelah melalui pemeriksaan mikrobiologi dengan metode pengembangbiakan konvensional, menunjukkan bahwa seluruh makanan positif terkontaminasi bakteri Salmonella sp. “Daging yang digunakan untuk memasak sate, gulai daging dan krengsengan mengandung bakteri Salmonella sp,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Nanik Sukristina di Surabaya, Kamis (6/7/2023) kemarin.
Hasil tersebut mengindikasikan adanya kesalahan dalam proses memasak. Kemungkinan disebabkan karena daging yang diolah kurang dicuci bersih dan tidak dimasak dengan matang sepenuhnya sehingga masih mengandung Salmonella.
Bakteri Salmonella sendiri merupakan kelompok bakteri pemicu diare dan infeksi di saluran usus manusia. Banyak manusia yang sering keracunan makanan dikarenakan memakan makanan yang masih mengandung Salmonella.
Biasanya bakteri ini hidup di saluran usus hewan. Namun, dapat ditularkan ke manusia melalui makanan yang terkontaminasi kotoran hewan. Selain itu, konsumsi makanan yang kurang matang dan tidak dicuci juga dapat meningkatkan risiko terkontaminasi. “Masa inkubasi Bakteri Salmonella sp adalah 6 hingga 72 jam,” katanya.
“Hal ini sejalan dengan hasil penyelidikan epidemiologi oleh Tim Dinkes Kota Surabaya bahwa sebagian besar kasus mengalami gejala awal pada jam ke 9 hingga 10 jam setelah menyantap hidangan yang disajikan,” kata Nanik.
Gejala yang biasanya dirasakan setelah terinfeksi bakteri Salmonella sp yakni diare (20,80 persen), panas (17,20 persen), pusing (17,20 persen), mual (16,00 persen), lemas (15,20 persen), hingga muntah (13,20).
Tak ingin kejadian tersebut terulang, Nanik menerangkan sejumlah langkah antisipasi. Di antaranya, proses penyembelihan harus higienis. Kemudian, pendistribusian tidak lebih dari 2 jam. Mengingat, daging mempunyai kandungan protein dan mudah membusuk.
Di samping itu, masyarakat juga harus memperhatikan proses pengolahan dan penyimpanan, misalnya, daging harus dimasukkan ke dalam lemari pendingin. “Antara daging sapi dan kambing berbeda waktu penanganannya. Daging kambing lebih mudah rusak dibandingkan dengan daging sapi,” katanya.
Kambing dengan kandungan protein lebih tinggi bisa bertahan kurang dari 6 jam dalam suhu ruangan. Sehingga, apabila daging kambing berada lebih dari 6-10 jam maka cenderung rusak. Berbeda halnya dengan daging sapi. “Sehingga daging sapi dan kambing tidak boleh dicampur,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga harus memastikan bahan makanan dicuci dengan bersih. Kemudian, proses pengolahan harus dilakukukan hingga benar-benar matang. Misalnya, dengan memasak pada suhu >70 derajat celcius. Peralatan masak yang digunakan bersih dan tidak berkarat.
Nanik juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam berkegiatan sehari-hari secara disiplin dan konsisten. “Jangan lupa mencuci tangan sebelum makan, dan jangan menyantap makanan yang sudah berbau tidak sedap, berlendir, atau berjamur,” ujarnya.
Setelah mendapatkan penanganan intensif di puskesmas hingga rumah sakit, seluruh pasien yang mengalami keracunan makanan daging kurban telah dinyatakan puluh sejak Rabu (5/7/2023) dan sudah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. (Din/RED)





