Malang, BeritaTKP.com – Kalahnya Arema FC dalam liga melawan Persebaya dengan skor akhir 2-3, membuat murka Aremania. Karena tidak terima klub kesayangannya kalah dalam pertandingan yang berlangsung pada Sabtu (1/10/2022) malam lalu, ratusan Aremania turun ke lapangan. Hal tersebut membuat polisi memtuskan untuk menyemprotkan gas air mata ke seluruh sudut Stadion Kanjuruhan, termasuk tribun penonton untuk menertibkan para suporter yang berusaha memberontak.

Akibatnya, ratusan penonton panik, sesak napas, pingsan dan terinjak-injak hingga sampai merenggut nyawa ratusan orang. Setelah tragedi ini. Sebagian masyarakat menyalahkan pihak polisi yang menyemprotkan gas air mata.

Pasalnya, larangan penggunaan gas air mata telah tertuang dalam ketentuan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA)  Bab III dan Pasal 19 soal Steward di pinggir lapangan.

Karena itu, masyarakat menyalahkan polisi. Banyak yang berpendapat bahwa kepanikan yang dirasakan penonton, sesak napas dan kerusuhan diperparah karena adanya gas air mata.

Kendati begitu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD memiliki penjelasan terkait tindakan polisi menyemprotkan gas air mata. Menurut Mahfud MD, gas air mata dikeluarkan lantaran banyak supporter mulai mengejar para pemain sepak bola.

Mahfud MD mengungkap ada banyak Aremania yang turun ke lapangan hendak menyerbu para pemain Arema FC maupun Persebaya. Itu sebabnya, polisi menembakkan gas air mata agar situasi kembali kondusif.

“Ada yang mengejar Arema karena merasa kok kalah. Ada yang kejar Persebaya. Sudah dievakuasi ke tempat aman. Semakin lama semakin banyak, kalau tidak pakai gas air mata aparat kewalahan, akhirnya disemprotkan,” jelas Mahfud MD, Minggu (2/10/2022) kemarin.

Kendati begitu, tindakan aparat Malang itu nantinya akan dilakukan evaluasi lebih lanjut agar kejadian yang sama tak lagi terulang. “Yang jangka panjang, kita evaluasi dalam peristiwa ini, sesungguhnya di balik ini ada apa,” paparnya.

Sementara itu, Mahfud MD mengungkap biaya pengobatan dan perawatan korban selama berada di rumah sakit telah ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Malang. “Biaya-biaya yang dibutuhkan untuk perawatan dan penyelesaian masalah korban akan ditanggung Pemda Kabupaten Malang,” ujar Mahfud MD.

Di sisi lain, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo ( Presiden Jokowi ) meminta evaluasi menyeluruh seusai tragedi tersebut. Permintaan evaluasi disampaikan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali dan Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Mochamad Iriawan dan Kapolri Jendera Pol Listyo Sigit Prabowo.

“Saya juga telah perintahkan kepada Menpora, Kapolri dan Ketum PSSI untuk melakukan evaluasi menyeluruh pelaksanaan pertandingan sepakbola dan juga prosedur pengamanan penyelenggaraannya,” kata Presiden Jokowi dalam keterangannya, Minggu (2/10/2022) kemarin.

Jokowi juga meminta Kapolri untuk mengusut tuntas tragedi memilukan ini. Tak hanya itu, Jokowi juga menegaskan untuk liga 1 Indonesia harus ditunda untuk sementara waktu. Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan semula hendak menghentikan kompetisi selama sepekan. “Khusus kepada Kapolri saya minta melakukan investigasi dan mengusut tuntas kasus ini. Untuk itu saya juga memerintahkan PSSI untuk menghentikan sementara liga 1 sampai evaluasi dan perbaikan prosedur pengamanan dilakukan,” ucap Jokowi.

Sementara itu, Gilang Widya Premana alias Juragan 99 selaku Presiden Arema FC juga menyampaikan kesanggupannya untuk bertanggung jawab dan menanggung biaya pengobatan para korban.Ia juga menyampaikan permintaan maaf dan duka mendalam untuk korban serta keluarga yang ditinggalkan.

“Saat ini manajemen Arema FC terus berkoordinasi dengan pusat layanan kesehatan untuk mengurus para korban,” papar Gilang.

“Kami meminta agar diberikan pelayanan yg maksimal dalam penanganan korban luka2, dan meminta pusat2 layanan kesehatan utk menyampaikan pembiayaan nya kepada manajemen Arema FC.” Lanjutnya. (Din/RED)