BOGOR, BeritaTKP.com – Jumlah siswa SMPN 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang mengalami gejala dugaan keracunan setelah menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) bertambah menjadi sekitar 102 hingga 103 orang. Menyusul kejadian tersebut, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan makanan dihentikan sementara selama 20 hari.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bogor, Haidir, mengatakan penghentian operasional dilakukan terhadap SPPG Bogor Cisarua Leuwimalang 01. Kebijakan itu diambil setelah muncul laporan dugaan keracunan yang dialami para siswa.

“Hari ini sampai 20 hari ke depan dapurnya tidak operasional, suspen kategori sedang selama 20 hari,” kata Haidir, Rabu (21/10/2026).

Sebanyak 102 hingga 103 Siswa Mengalami Gejala

Haidir menjelaskan, SMPN 2 Cisarua memiliki total 881 siswa. Dari jumlah tersebut, sekitar 102 hingga 103 siswa dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan konsumsi MBG.

Menurutnya, sebagian siswa masih menjalani observasi, sementara siswa lainnya dipersiapkan untuk kembali ke rumah setelah mendapatkan penanganan.

“Ada 48 siswa sebentar lagi akan dikembalikan ke rumah masing-masing, sisanya masih diobservasi,” jelas Haidir.

Sebelumnya, Kapolsek Cisarua, Kompol Budi Suratman, menyampaikan bahwa 92 siswa sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Paru Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua.

Budi juga menyebutkan bahwa beberapa siswa telah diperbolehkan pulang setelah memperoleh penanganan medis.

Perbedaan angka tersebut berasal dari keterangan yang disampaikan pada waktu berbeda. Data terbaru dari KPPG Bogor menyebutkan jumlah siswa yang mengalami gejala mencapai sekitar 102 hingga 103 orang.

Susu UHT Diduga Menjadi Penyebab

KPPG Bogor menyatakan bahwa laporan dugaan keracunan yang ditemukan berkaitan dengan distribusi MBG dari SPPG Bogor Cisarua Leuwimalang 01.

Haidir mengungkapkan, pihaknya tengah meneliti dugaan penyebab kejadian tersebut. Salah satu dugaan awal yang sedang diperiksa adalah susu UHT yang diterima para siswa.

“Dugaan awal sementara karena susu UHT,” ujarnya.

Meski demikian, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan. Dugaan keterkaitan dengan susu UHT masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Operasional SPPG Dihentikan Sementara

Penghentian operasional selama 20 hari menjadi langkah yang diambil KPPG Bogor menyusul insiden tersebut. Selama masa penghentian, dapur SPPG yang bersangkutan tidak beroperasi.

Di sisi lain, penanganan terhadap siswa yang mengalami gejala masih menjadi perhatian. Haidir berharap para siswa yang menjalani perawatan dapat segera pulih dan kembali ke rumah masing-masing.

Pemeriksaan terhadap dugaan penyebab keracunan juga diperlukan untuk memastikan faktor yang memicu kejadian tersebut, sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap penyediaan dan distribusi makanan dalam program MBG.

Hingga berita ini disusun, dugaan penyebab kejadian masih dalam penelitian. Belum ada kesimpulan final bahwa susu UHT merupakan penyebab keracunan yang dialami para siswa.(æ/red)