Madiun, BeritaTKP.com – Embung Grape di Desa Bolo, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, tak kunjung bisa dimanfaatkan oleh petani. Embung tersebut telah mangkrak selama 6 tahun, padahal pembangunannya dulu sudah menelan anggaran sebanyak Rp18,2 miliar.

Lebih detail, pembangunan Embung Grape pada tahun 2017 lalu sudah menelan anggaran sebesar Rp6,2 miliar. Serta ditambah dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo sebanyak Rp 12 Miliar.

Para petani pun akhirnya mengendalkan air dari Sungai Catur guna memenuhi kebutuhan pengairan tanaman sehari-hari. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Madiun Suharno mengatakan, sejak dibangun pada 2017, embung yang dapat menampung volume air sampai 1.000 meter kubik tersebut, tidak berfungsi sebagaimana semestinya.

Padahal, embung ini menjadi harapan besar petani, menambah debit air yang ada di Sungai Catur. Serta digunakan petani dari 3 kecamatan. Yakni Kecamatan Dagangan, Kecamatan Geger, dan Kecamatan Wungu.

Menurutnya, pembangunan embung sudah matang. Namun tidak ada tindak lanjut yang signifikan. Mereka berharap status embung segera dikelola. Pengelolaannya diserahkan kepada Kabupaten Madiun, dalam hal ini bidang pengairan, lalu kerja sama dengan KTNA atau Himpunan Petani Pemakai Air setempat.

Sambil mencari solusi terbaik, pihaknya juga menyampaikan kepada pihak terkait untuk melakukan pengerukan kembali, sebab sedimen sudah memenuhi embung. “Awalnya pada waktu itu ada peremsian Waduk Brubus oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, yang kemudian meminta tambahan waduk. Lalu kami tunjukkan tempatnya di Kresek,” bebernya, dikutip dari beritajatim.

“Ketika mau dibangun waduk, dan izinnya sudah lengkap, ternyata kondisi tanah tidak mampu buat mendirikan bangunan, karena teksturnya berbeda. Sehingga kami desak untuk diganti embung ini,” pungkasnya. (Din/RED)