Gresik, BeritaTKP.com – Seorang bocah berinisial EW (11) kerap sekali dianiaya oleh kakak tirinya yang berinisial ER. EW bahkan sempat di pukul menggunakan teflon panas hingga kepalanya dibenturkan tembok oleh kakak tirinya.

Salah seorang tetangga korban di Kabupaten Gresik sekaligus ketua RT wilayah setempat daerah yang ditempati korban menyebut, penganiayaan itu terbongkar saat korban berani bersuara dan bisa diajak bicara. Awalnya EW ketakutan dan memendam aksi keji sang kakak dan kakak iparnya. EW mengaku kerap disiksa jika dirinya melakukan kesalahan, meski masalahnya terkadang sepele.

EW pun pernah dibenturkan kepalanya ke tembok hingga meja ketika membuat kesalahaan. Tak hanya itu, EW juga disiksa karena mengatakan ‘lelah’ saat diperintah kakak tiri beserta istrinya. “Ada bekas luka di punggungnya karena dinyonyok (disundut) teflon panas. Sepertinya kejadiannya cukup lama, karena hanya tinggal bekas luka,” tambah Slamet, Sabtu (22/10/2022).

Slamet mengatakan, bahwa aksi penganiayaan tersebut terbongkar setelah ER meminta uang santunan dari sekolah kepada EW. Lantaran EW mengatakan belum menerima santunan tersebut, kakak tirinya itu mendatangi sekolah untuk meminta uang santunan itu.

“Selain itu ada laporan warga jika kakak tirinya sudah lama melakukan penganiayaan. Sejak usia sekitar 7 tahun. Karena pihak sekolah sudah tahu jika selama ini uang santunan itu digunakan kakak tirinya, uang santunan itu pun tak diberikan,” kata Slamet.

Diketahui ketika EW masih berusia balita, ER memilih merawat adik tirinya tersebut karena ingin menguasai uang santunan dari donatur. EW tinggal bersama kakak tirinya sejak dirinya menjadi yatim piatu pada usia 5 tahun. Namun, bukannya mendapat perlakuan dan perlindungan dari kakak pada umumnya, EW malah menjadi mesin pencari uang oleh sang kakak.

EW diperintah untuk berjualan bensin dan tambal ban milik kakak tirinya sepulang sekolah hingga pukul 23.00 WIB setiap hari. EW pun mendapat penyiksaan jika melakukan kesalahan. “Dulu pernah, disuruh kakaknya ambil air untuk tambal ban itu kurang. Kakaknya marah kan, langsung dikampleng (dipukul kepalanya). Padahal kan anak itu masih kecil, wajar kan kalau nggak kuat,” kata salah satu tetangga EW, Heri Surahman. (Din/RED)