Surabaya, BeritaTKP.com – Eka Nararia Alfara, salah satu anggota Polsek Pakis, jajaran dari Polres Malang, saat menghadiri sidang pemeriksaan para saksi Tragedi Kanjuruhan, pada Kamis (2/2/2023) kemarin, mengaku dirinya ditugaskan berjaga di pintu 12 untuk memeriksa barang-barang suporter yang hendak masuk ke dalam.
Dalam kesaksiannya, ia menjelaskan saat memeriksa barang-barang suporter, sebagiannya ia menemukan botol dan miras yang telah dibungkus kantong plastik. Hal ini ia sampaikan saat mendapat pertanyaan dari jaksa apakah menemukan suporter yang membawa miras saat hendak masuk stadion.
“Ada, saya bersama kapolsek menemukan dua miras dalam botol dan bungkus plastik, itu di luar pas kita periksa masuk,” kata Eka di ruang Cakra Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (2/2/2023) kemarin.

Menurut Eka, ia juga menemui sejumlah suporter dalam keadaan telah mengonsumsi miras saat masuk ke stadion. Ini ia ketahui dari bau mulut saat hendak pemeriksaan di pintu. “Saya untuk melihat enggak (minum miras), tapi datang bau khas miras, di samping pintu 12 (ada yang) tidur, gak sadar (mabuk). Mungkin terlalu banyak konsumsi miras, ada yang masuk (bau alkohol),” terang Eka.
Waktu pertandingan laga Arema FC dan Persebaya berlangsung, Eka kembali mengaku, dirinya juga masih berjaga di pintu dan tak ikut masuk ke dalam stadion. Usai laga, Eka mendapatkan instruksi menuju lobby untuk pengamanan pemain Persebaya.
Saat itu lah, ia mengaku mengetahui ada Aremania sedang berkelahi saat mengevakuasi korban. Namun ia hanya melihatnya saja karena suporter mengintimidasinya. “Ada bentuk intimidasi dari suporter, waktu itu di pintu 12 sempat tidak tahu apa yang menjadi permasalahan tapi ada Aremania bertengkar, 2 lawan 1, itu saat evakuasi,” ujarnya.
Eka mengaku, dia dan teman-temanya mendapatkan intimidasi berupa kata-kata umpatan. Bahkan dirinya juga sempat mendapat tendangan dari suporter saat itu. “Di luar kata-kata kasar sudah keluar, misuh (maki) ke polisi, saat itu saya sendirian, sama teman polisi, ‘polisi jancuk’ mohon maaf, ya itu, kata “polisi jancuk” itu keamanan saya terancam. Saat saya lari ke lobby sekitar pintu 14, dapat pukulan dan tendangan,” beber Eka.
Saya sendiri waktu itu yang saya ingat kena banget satu orang (tendangan), itu banyak orang, ditendang di bagian punggung, dipukul mengelak, bukan dikerumuni tapi saat berlari mereka ada di kanan kiri saya ada intimidasi seperti itu,” imbuhnya.
Saat akan menuju ke lobby itu lah, lanjut Eka, ia melewati pintu 13 dan melihat seorang perempuan terjepit di tiang dan mencoba menolong. “Saat melewati pintu 13 saya melihat kejadian itu ada perempuan terjepit di tiang. Saya mencoba evakuasi karena dorongan penonton begitu kuatnya saya dan Aremania tidak mampu,” ujar Eka.
Eka sendiri tidak tahu menahu, jika ada penembakan gas air mata dari dalam stadion. Namun, ia mengaku memang sempat mendengar dua kali letusan yang ia kira adalah petasan. “Saya tidak tahu sama sekali ada gas air mata atau tidak, saya saat itu masih ada sekitar pintu 12 dekat warung saya dengar dua kali letupan, saya gak paham itu apa, saya berpikir itu petasan,” tandas Eka. (Din/RED)





