Pandeglang, BeritaTKP.com – Seorang santri di Pondok Pesantren Kun Karima, Pandeglang mendapat perlakuan yang tidak wajar oleh santri seniornya di ponpes tersebut. Terdapat luka lebam pada beberapa bagian tubuhnya usai dilakukan penganiayaan.
Korban bernama Raihan. Peristiwa itu diketahui setelah sang kakak korban mengunggah beberapa foto luka lebamnya serta menceritakan kronologisnya disalah satu akun sosial media.
“Adik saya tanggal (21/11/2021), keluar dari lingkungan ponpes untuk beli nasi uduk dengan 1 orang temannya dan tidak hadir jama’ah sholat isya di pondok,” jelasnya.
Ia menceritakan bahwa adiknya mendapatkan hukuman dari pihak pengurus kamar (santri kelas 1 SMA) dengan push up 150 kali, sembari push up korban juga ditendang kepalanya hingga matanya.
“Kalian injak perut dan punggungnya. Belum puas? Kalian tutup mata dan badan dia dengan selimut, kalian seret ke pojok lemari dan kalian pukuli badannya dengan bambu. Dia kesakitan, dia sudah teriak2 minta ampun” lanjutnya.
“Dia tidak ingat berapa kali dia dihantam pukulan. Yang dia tau, dia hanya kesakitan dan ketakutan. Tapi kalian tetap pukuli dia seperti setan” katanya.
“Kenapa kalian tidak ganti hukumannya dengan hafalan surat2 Al-Qur’an? bersih-bersih di lingkungan pondok? Atau apapun kegiatan yg mendidik. Memang apa yg sudah adik saya lakukaen? Malingkah? Melakukan tindak asusila kah” imbuh kakak korban.
Kakak korban juga menyayangkan pihak ponpes yang terkesan menutupi kejadian tersebut.
“Kita pihak keluarga tdk akan tau apa yg sudah terjadi pada adik kami kalau ibu tidak mengirimkan makanan sorenya. Apa salahnya menghubungi kami? bahkan, dalam keadaan babak belur dan tertekan seperti ini tidak juga adik kami langsung dibawa ke puskesmas/klinik terdekat,” tulisnya.
Setelah diketahui adanya penganiayaan tersebut, pihak keluarga langsung membawa masalah penganiayan tersebut ke ranah hukum dengan melapor ke pihak Polres Pandeglang.
“Semoga adik kami tercinta bisa mendapatkan keadilan. Kami sedang menunggu proses hukum. Apa yg saya utarakan, bukan bentuk ujaran kebencian. ini nyata adanya. Saya hanya butuh keadilan. Cukup adik saya yang mengalami hal seperti ini,” paparnya.
Dengan kejadian tersebut kakak korban berharap jangan sampai citra pondok yang mulia dinodai oleh hal-hal yg tidak manusiawi. Karena selain keluarganya, juga banyak orang tua di luar sana yang menitipkan anaknya dibimbing dan dibina oleh pondok pesantren. Tujuannya hanya satu, mempunyai seorang anak sholeh dan berakhlak mulia. (Limbad)





