Ponorogo, BeritaTKP.com – Si jago merah meluluhlantakkan gedung sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUS) Adelweiss di Dusun Bedog, Desa Wates, Kecamatan Slagung, pada Rabu (9/8/2023) kemarin. Tak satupun bangunan semi permanen dengan dua kelas berukuran 5 x 8 meter itu tersisa akibat kebakaran.

Kejadian ini sontak membuat guru dan orang tua murid berteriak histeris, lantaran terkejut satu-satunya sekolah PAUD yang ada di desa ini telah rata dengan tanah. 20 anak-anak PAUD dan TK yang bersekolah disini kini hanya bisa meratapi sekolah yang mereka cintai hanya tinggal kerangka.

Tak hanya menghanguskan gedung sekolah, kobaran api juga membakar seluruh dokumen milik siswa dan sejumlah alat pembelajaran yang tidak bisa diselamatkan. “Seluruh dokumen dan administrasi juga peralatan sekolah semua habis terbakar, satu laptop juga ikut terbakar, ” ujar Kepala Sekolah PAUD Edelweiss Wates, Erni Didit Rianti, Rabu (9/8/2023) kemarin.

Sambil menangis, Erni mengaku tak percaya bahwa sekolah yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 2011 lalu, kini hangus terbakar. “Habis semua, bahkan administrasi sejak 2012 juga ikut terbakar. Gedung ini perjuangan kami sejak 2012, sekarang sudah tidak ada lagi,” ujarnya sembari menangis, Rabu (09/08/2023).

Erni mengaku, pihaknya terpaksa memulangkan siswa yang pagi tadi berniat masuk sekolah, lantaran sekolahnya telah terbakar. Untuk sementara, pihaknya meliburkan dahulu aktifitas belajar sembari menunggu tempat belajar alternatif tersedia. “Karena keadaan belum kondusif anak anak belajar di rumah. Selanjutnya pembelajaran kami alihkan di rumah pak dasar,” ungkapnya.

Erni menambahkan, kondisi sekolah yang berada di perbukitan membuat warga kesulitan memadamkan api. Berdasarkan kesaksian warga, api mulai membakar sekitar pukul 04.00 WIB subuh. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. “Warga sekitar skeolah berusaha memadamkan api dengan aiar yang ada di sini, namun akrena besarnya kobaran api dan bangunan masih dari dinding anyaman bambu membuat kesulitan memadmkan api,” ujar Erni.

Sementara itu, warga sekitar mengaku, tidak tahu pasti kapan api melalap abis sekolah alam ini. Namun ia menduga kejadian kebakaran terjadi pada malam hari, dimana konsleting listrik disebut menjadi pemicu api. “Gak tahu kapan pastinya. Saya bangun api sudah membesar. Sudah hangus semua. Katanya konsleting listrik tadi. Kita gak bisa memadamkan, karena alat yang digunakan seadanya,” pungkasnya. (Din/RED)