Surabaya, BeritaTKP.com – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Surabaya Utara telah membangun fondasi kebersamaan yang jauh melampaui forum koordinasi formal. Di tengah persaingan sekolah yang semakin ketat dan tantangan birokrasi yang kompleks, para kepala sekolah di wilayah ini justru memilih jalur berbeda: mereka mengikatkan diri dalam sebuah hubungan kekeluargaan. Ungkapan “sakit juga bagian dari MKKS” menjadi refleksi nyata dari filosofi tersebut—bahwa tidak ada satu pun kepala sekolah yang berjuang sendirian.
Sebagai pemimpin sekolah swasta, tugas mereka tidak ringan. Kepala sekolah bukan hanya pengambil kebijakan, tetapi juga manajer anggaran, penggerak mutu, dan garda terdepan saat akreditasi. Namun bersama MKKS Surabaya Utara, peran itu menjadi lebih manusiawi. Mereka bukan hanya kolega, tetapi saudara.
- Saling Menguatkan dan Mengisi Kekurangan (Caring)
MKKS berfungsi sebagai safety net emosional sekaligus profesional. Ketika satu sekolah menghadapi tantangan—mulai dari kekurangan murid, kendala anggaran, hingga persiapan akreditasi—anggota lain tidak tinggal diam.
Contoh konkret:
Sekolah yang baru berhasil akreditasi memberikan pendampingan kepada sekolah yang sedang bersiap, termasuk melakukan review silang dokumen agar bukti fisik dan administrasi tetap valid dan lengkap. Ini adalah wujud nyata “kakak membantu adik” dalam keluarga besar MKKS.
- Solidaritas dalam Advokasi (Protecting)
Tantangan sekolah swasta seperti isu penerimaan murid baru (SPMB) yang adil atau kekhawatiran terhadap pembangunan sekolah negeri seringkali menjadi tekanan tersendiri. Di MKKS Surabaya Utara, para kepala sekolah berdiri satu suara.
Mereka bersama-sama menyampaikan aspirasi kepada pihak eksekutif maupun legislatif—seperti dalam audiensi bersama DPRD—agar suara sekolah swasta benar-benar didengar dan diperjuangkan.
- Kebersamaan dalam Pengembangan Kompetensi
Program-program MKKS seperti pelatihan manajerial, desain pembelajaran kreatif, seminar kompetensi guru, hingga sesi “Guru sebagai Konselor” bukan sekadar agenda kerja.
Itu adalah ruang belajar bersama, tumbuh bersama, dan memastikan tidak ada anggota yang tertinggal dalam inovasi pendidikan.
Makna Mendalam dari Ungkapan “Sakit Juga Bagian dari MKKS”
Ungkapan ini telah menjadi pilar etos kerja MKKS Surabaya Utara.
- Empati di Atas Kinerja
Kesulitan pribadi, kesehatan, maupun tantangan manajerial dari seorang kepala sekolah dipandang sebagai persoalan bersama. Dukungan moral, spiritual, dan emosional hadir tanpa diminta.
- Gotong Royong Sumber Daya
Ketika ada sekolah yang kekurangan SDM atau infrastruktur, anggota lain saling membantu, baik dengan tenaga maupun keahlian.
- Persatuan dan Kepercayaan
Hubungan kekeluargaan membuat setiap kepala sekolah nyaman berbagi masalah sensitif—bahkan soal keuangan—tanpa takut dihakimi atau dimanfaatkan.
Kebersamaan yang Terbukti dalam Tindakan
Pada Kamis, 4 Desember 2025, penulis bersama para kepala SMP Swasta Surabaya Utara—
CUCUN AGUSTIYO NUSANTARA, S.Pd;
MIFTAHUL ARIF, S.Si;
H. ALAIKAR ROCHIM, S.Ag;
ARI BUDI CAHYANTO, S.Ag., M.M;
Muhamad Bagus Solichin;
SUPARMANTO, SE;
Chusnul Yakin, S.Ag;
dan Ibu HENTRI POERWIDIJATI, S.H—
mengunjungi Bapak JUNAIDI, S.Ag, Kepala SMP Al Ikhlas Surabaya, yang sedang terbaring sakit di Ruang Ungaran Lantai 2 RS Eka Husada, Menganti, Gresik.
Di sana, para kepala sekolah bergantian memberi semangat, menghibur, dan mendoakan kesembuhan beliau. Sebelum berpamitan, doa dipimpin oleh Bapak H. ALAIKAR ROCHIM, S.Ag, memohon agar beliau segera pulih dan kembali beraktivitas.
Usai kunjungan, rombongan diajak oleh Ibu HENTRI POERWIDIJATI, S.H untuk makan siang bersama di RM Nasi Madura Graha Sunan Ampel Wiyung—sebuah momen sederhana yang menguatkan rasa persaudaraan di antara sesama kepala sekolah.
MKKS sebagai Rumah Kolaborasi Humanis
MKKS SMP Swasta Surabaya Utara telah membuktikan bahwa kolaborasi yang efektif berawal dari hubungan yang humanis. Para kepala sekolah di sini bukan hanya profesional yang berdedikasi, tetapi sahabat yang menjunjung tinggi empati dan kepedulian.
Di tengah tuntutan administrasi dan akademik, mereka berhasil menjaga semangat bahwa setiap sekolah—besar atau kecil—adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga besar pendidikan Surabaya Utara.
Inilah model kepemimpinan kolaboratif yang patut ditiru:
datang sebagai kolega, pulang sebagai keluarga. (red)





