BLITAR, BeritaTKP.com – Sarasehan napak tilas jejak kolonial di Bumi Blitar Raya digelar sebagai upaya mengangkat kembali kekayaan sejarah Kota Blitar dari berbagai era, mulai pra-kerajaan – kerajaan, kolonial hingga masa kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus edukasi sejarah bagi masyarakat, khususnya generasi muda – mudi.

Sarasehan dijadwalkan berlangsung pada 5 Mei 2026 pukul 08.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini turut menghadirkan Antonius Martinus Geul asal (Belanda), Didik Tedja & Friend (Acustik Perfom); Andi Yuwono, S.sos, M.si (Ketum ASIDEWI dan Dosen UIN Satu Tulungagung), Farikha Niam Fauzi,S.Ark ( Arkeolog dan Ahli Pertama pamong Budaya), Lucia Krismanti Wasonowulan (POEM PERFOM ART) dan Prabowo ( Komunitas Blitar Tempo Doeloe) , Semua nama nama tersebut  sebagai Penggiat yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah Indonesia. Kehadirannya berkaitan dengan jejak keluarga Geul pada awal abad ke-20 yang diketahui memiliki peran dalam perkembangan awal pemerintahan serta aktivitas ekonomi di Blitar, termasuk keterlibatan dalam dewan kota dan sektor perkebunan.

Sarasehan digelar di Museum Istana Gebang, rumah peninggalan Presiden pertama Republik Indonesia yang menjadi daya tarik utama kegiatan. Lokasi ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang diskusi, tetapi juga menjadi sarana wisata edukasi sejarah bagi masyarakat.

Kegiatan ini merupakan gerakan kolektif berbasis komunitas yang dilakukan secara mandiri dengan harapan ke depan dapat berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih luas serta menjadi ikon sejarah seperti di kota lain. Pemerintah Kota Blitar melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata turut mendukung dengan menyediakan fasilitas tempat kegiatan.

Pesan kepada generasi muda turut disampaikan dalam kegiatan ini. Seperti yang pernah disampaikan Bung Karno, “Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah,” menjadi pengingat bahwa sejarah merupakan sumber semangat dalam membangun masa depan.

Melalui sarasehan dan napak tilas ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif generasi muda untuk lebih peduli terhadap sejarah. Kota Blitar pun diharapkan dapat berkembang menjadi destinasi wisata sejarah yang representatif dengan kekayaan narasi dari berbagai era yang dimilikinya.( Dipa/Imam)