Bekasi, BeritaTKP.com— Bangkai taksi Green SM yang diduga menjadi pemicu awal kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur kini menjadi perhatian warga. Taksi tersebut sebelumnya tertemper KRL di perlintasan dekat stasiun, sebelum akhirnya terjadi tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line.
Dari pantauan di lokasi, bangkai taksi berwarna hijau toska dengan kode CT11271 terlihat berada di tepi rel. Kondisinya mengalami kerusakan cukup parah setelah tertemper kereta.
Bagian pintu depan sebelah kiri taksi tampak penyok. Spion kendaraan terlihat menggantung, sementara sebagian besar kaca pecah. Kaca depan taksi juga terlihat mengalami retakan pada beberapa bagian.
Sejumlah warga tampak melihat kondisi bangkai taksi tersebut dari dekat. Beberapa di antaranya bahkan memperhatikan bagian dalam kendaraan yang rusak usai insiden tersebut.
Kementerian Perhubungan turut menyoroti kejadian ini. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan bahwa setiap kecelakaan akan menjadi bahan evaluasi, termasuk kemungkinan evaluasi terhadap operasional taksi Green SM.
“Setiap terjadi kecelakaan pasti akan kami lakukan evaluasi sehingga harapannya kita belajar dari apa yang terjadi kita perbaiki ke depannya,” ujar Dudy dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi, Selasa, 28 April 2026.
Selain itu, Kemenhub juga membuka kemungkinan evaluasi terhadap kebutuhan jalur double-double track di Stasiun Bekasi Timur. Sebab, saat ini KA jarak jauh dan KRL masih melintas di jalur yang sama di kawasan tersebut.
“Double-double track itu ya masuk evaluasi, termasuk juga elektrifikasi,” tambah Dudy.
Kecelakaan kereta tersebut terjadi pada Senin malam, 27 April 2026. Peristiwa bermula ketika sebuah taksi tertemper KRL di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur. Akibat kejadian itu, rangkaian KRL harus berhenti.
Tak lama kemudian, KA Argo Bromo Anggrek datang dan menabrak KRL dari arah belakang. Benturan keras itu menyebabkan gerbong khusus wanita di bagian belakang mengalami kerusakan parah hingga robek tertembus rangkaian kereta jarak jauh.
Dalam insiden tersebut, 14 orang dilaporkan meninggal dunia dan 84 orang lainnya mengalami luka-luka. Proses evakuasi korban telah selesai dilakukan pada Selasa pagi sekitar pukul 08.00 WIB.
Kepala Basarnas, Mayjen TNI M Syafii, menyampaikan bahwa seluruh korban yang dievakuasi dari lokasi merupakan perempuan.
“100 persen yang kita evakuasi perempuan,” kata Syafii.
Ia juga menegaskan bahwa apabila nantinya ditemukan bagian tubuh korban saat proses pembersihan bangkai kereta, petugas akan melakukan penanganan sesuai prosedur.
Kasus ini masih menjadi perhatian serius berbagai pihak. Evaluasi terhadap sistem perjalanan, keselamatan jalur, hingga operasional kendaraan di sekitar perlintasan disebut menjadi langkah penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang.(æ/red)





