JAKARTA, BeritaTKP.com — Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa upaya pencarian terhadap 593 korban hilang pascabencana di Sumatra masih terus dilakukan. Proses pencarian melibatkan personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, serta dukungan anjing pelacak (K9).
Syafii menjelaskan, penggunaan anjing pelacak diperlukan mengingat kondisi lapangan yang sangat menantang. Banyak area yang tertimbun lumpur tebal bercampur material kayu dan kini mulai mengering sehingga menyulitkan proses pencarian manual.
“Kondisi lumpur yang tebal dan mengering memerlukan pendekatan khusus. Karena itu, kami menggunakan K9 untuk membantu mempercepat pencarian,” ujar Syafii di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (2/12/2025).
Perbedaan Data Korban Meninggal Basarnas dan BNPB
Syafii juga menanggapi adanya perbedaan jumlah korban meninggal antara data Basarnas dan BNPB. Menurut BNPB, korban meninggal mencapai 659 orang, sementara Basarnas mencatat 583 orang.
“Basarnas bekerja menggunakan prosedur baku yang mengacu pada laporan yang kami terima langsung di lapangan. Sementara BNPB bertindak sebagai koordinator nasional, sehingga datanya mencakup laporan dari berbagai instansi dan pemerintah daerah,” jelasnya.
Kerugian Bencana di Sumbar Capai Rp1,2 Triliun
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyatakan bahwa total kerugian akibat banjir dan longsor diperkirakan mencapai lebih dari Rp1,2 triliun. Kerugian tersebut meliputi kerusakan rumah warga, fasilitas publik, infrastruktur, hingga kerusakan lahan pertanian.
Mahyeldi menjelaskan, berdasarkan data hingga 1 Desember 2025:
- 151 orang meninggal dunia
- 118 orang masih hilang
- Sekitar 130 ribu warga mengungsi
- Total rumah terdampak diperkirakan 30 ribu unit
Kerusakan terparah terjadi di sejumlah wilayah seperti Agam (Malalak), Selaras Air, Padang, Batu Busuk, Lubuk Minturun, serta perbatasan Padang Panjang–Batusangkar.
“Proses pencarian masih berlangsung, sehingga angka korban hilang kemungkinan bertambah,” ucap Mahyeldi.
Infrastruktur Mulai Diperbaiki Bertahap
Meski kerusakan terbilang masif, pemerintah daerah menyebut perbaikan beberapa infrastruktur mulai dilakukan, termasuk jalan utama yang ditargetkan rampung dalam waktu sekitar satu bulan. Sementara itu, distribusi bantuan logistik, termasuk bahan makanan, telah dapat menjangkau sebagian besar wilayah terdampak.(æ/red)





