Bojonegoro, BeritaTKP.com – Sebagian masyarakat maupun pelajar yang setiap hari menyeberangi Sungai Bengawan Solo dengan menggunakan transportasi tradisional tambangan penyeberangan Banjarsari adalah mereka yang tidak memiliki akses untuk melewati jalan lain untuk menuju ke wilayah kota.

Tambangan penyeberangan Banjarsari yang menghubungkan antara Kecamatan Trucuk dengan wilayah Kota Bojonegoro itu merupakan jalur terdekat yang bisa dilalui dengan jalan kaki maupun bersepeda. Khususnya para pelajar, tambangan penyeberangan tersebut sangat membantu.

Salah seorang warga Desa Banjarsari Kecamatan Trucuk Kabupaten Bojonegoro Wendi mengatakan, sejumlah pelajar yang berasal dari Desa Banjarsari sebagian besar menggunakan jasa penyeberangan perahu untuk berangkat dan pulang sekolah. Karena aksesnya lebih dekat bagi yang bersekolah di kota.

“Rata- rata pelajar yang menggunakan jasa penyeberangan ini karena tidak memiliki kendaraan bermotor. Dan usianya belum boleh menggunakan kendaraan bermotor, sedangkan jika harus memutar melewati Jembatan Kaliketek sangat jauh,” katanya, Kamis (7/4/2022).

Perbandingannya, kata Wendi, jika menggunakan jasa penyeberangan Tambangan Banjarsari hanya sekitar 300 meter ke kota. Sedangkan jika memutar melewati Jembatan Kaliketek bisa lebih dari lima sampai enam kilo meter. Dengan ditutupnya tambangan perahu penyeberangan itu, dia mengatakan, ada pelajar yang terancam putus sekolah karena tidak memiliki akses.

“Ada sekitar 11 anak yang bisa putus sekolah karena orang tuanya juga tidak memiliki kendaraan bermotor untuk mengantar sekolah,” jelasnya.

Selain pelajar, 10 orang yang biasa menggantungkan hidupnya sebagai operator perahu penyeberangan juga tidak bisa bekerja. “Penambang perahu tidak bisa melawan dan harus mengikuti aturan pemerintah. Tapi perlu diperhatikan anak sekolah dan orang yang bekerja di pasar yang tidak memiliki kendaraan bermotor,” pungkasnya.

Setelah adanya protes dari warga yang biasa menggunakan jasa penyeberangan Sungai Bengawan Solo itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Banjarsari mencarikan solusi jangka pendek bagi warga. Yakni dengan mengalihkan akses penyeberangan Banjarsari dengan wilayah Kota yang semula di Banjarejo bergeser ke Kelurahan Ledok Wetan.

“Daerah Ledok Wetan ini yang tidak masuk wilayah yang akan dibangun RTH,” ujar Kepala Desa Banjarsari, Fatkhul Huda.

Untuk diketahui, penutupan tambangan penyeberangan itu setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Kabupaten Bojonegoro akan membangun Taman Bengawan Solo (TBS) yang ada di utara Pasar Kota menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Dampak pembangunan untuk mempercantik kota tersebut, sebelumnya juga sudah menggusur puluhan pedagang yang berjualan di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo. Kini, giliran akses tambangan penyeberangan yang menghubungkan Desa Banjarsari Kecamatan Trucuk dengan Kota Bojonegoro. [ndaa/red]