BEKASI, BeritaTKP.com — Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap sejumlah faktor yang memengaruhi situasi sebelum KA 4B Argo Bromo Anggrek menabrak KA 5568A Commuter Line di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur.
Salah satu temuan penting berkaitan dengan kondisi jalur yang melengkung, jarak pandang terhadap sinyal, kondisi kaca depan lokomotif, hingga pemahaman awak kereta terhadap urutan aspek persinyalan.
KNKT menilai kombinasi kondisi tersebut berpotensi mengurangi efektivitas informasi dari sinyal pembantu sebelum sinyal blok yang menunjukkan perintah berhenti.
Argo Bromo Anggrek Melewati Sinyal Hijau
Sebelum memasuki petak antara Stasiun Bekasi dan Stasiun Bekasi Timur, KA 4B berjalan dari Jalur III Stasiun Bekasi dan melewati Sinyal Keluar J12 yang menunjukkan aspek hijau.
Aspek tersebut mengindikasikan kereta dapat berjalan sesuai kecepatan operasi.
Setelah melewati sinyal tersebut, KA 4B kemudian memasuki petak blok yang memiliki Sinyal Pembantu UB104 dan Sinyal Blok B104.
Berdasarkan analisis data persinyalan dan simulasi yang dilakukan KNKT, Sinyal Blok B104 menunjukkan aspek merah yang berarti kereta harus berhenti.
Sementara Sinyal Pembantu UB104 memberikan indikasi mengenai aspek yang ditampilkan oleh sinyal utama tersebut.
Sinyal Berada Setelah Jalur Lengkung
KNKT menemukan Sinyal Blok B104 berada setelah jalur rel melengkung dengan nomor IP.MC22D.
Sinyal tersebut disebut baru dapat terlihat dari jarak sekitar 410 meter, sementara ketentuan teknis yang dirujuk KNKT menetapkan jarak tampak minimum 600 meter.
Karena itu, dipasang Sinyal Pembantu UB104 untuk membantu memberikan informasi mengenai aspek Sinyal Blok B104.
Namun, kondisi lingkungan di sekitar lokasi disebut turut memengaruhi kemampuan awak kereta dalam mengidentifikasi sinyal tersebut.
Cahaya Sinyal Terganggu Kondisi Lingkungan
Dalam pengamatan lapangan, KNKT menemukan Sinyal Pembantu UB104 menggunakan lampu LED putih.
Pada malam hari, cahaya sinyal tersebut disebut relatif sulit dibedakan dari pencahayaan kawasan permukiman di sekitarnya karena terdapat sejumlah sumber cahaya dengan warna dan intensitas yang serupa.
Selain kondisi lingkungan, KNKT juga menemukan adanya goresan akibat wiper dan swirl mark pada kaca depan lokomotif.
Kondisi kaca tersebut menyebabkan penyebaran cahaya atau light scattering, sehingga kontras antara cahaya sinyal dengan cahaya lingkungan berpotensi berkurang.
KNKT mencatat kondisi berbeda pada kaca depan KRL yang menggunakan material laminated safety glass. Visibilitas sinyal dari kabin KRL disebut lebih jelas dibandingkan kondisi pada kaca polycarbonate lokomotif.
Perhatian Masinis Disebut Bisa Terpengaruh
KNKT juga menganalisis pemahaman masinis dan asisten masinis terhadap pola aspek persinyalan.
Setelah mendapatkan aspek hijau dari Sinyal Keluar J12, awak KA 4B memahami perjalanan masih dapat dilanjutkan. Berdasarkan pemahaman terhadap pola persinyalan tiga aspek, aspek hijau secara berurutan dipahami akan diikuti aspek hijau atau kuning, sementara aspek merah didahului aspek kuning sebagai peringatan untuk berhati-hati.
KNKT menyebut pemahaman tersebut, yang terbentuk dari pendidikan, pelatihan, dan pengalaman awak sarana perkeretaapian, dapat memengaruhi alokasi perhatian.
Dengan kondisi tersebut, Sinyal Pembantu UB104 berpotensi tidak menjadi pusat perhatian ketika aspek yang ditampilkan berbeda dari ekspektasi awak kereta.
Pengereman Baru Dilakukan Setelah Melihat Sinyal Merah
Menurut KNKT, kombinasi pemahaman terhadap urutan aspek persinyalan, keterbatasan visibilitas Sinyal Pembantu UB104 pada malam hari, serta light scattering pada kaca lokomotif berpotensi menurunkan situational awareness awak KA 4B.
Akibatnya, informasi dari Sinyal Pembantu UB104 tidak teridentifikasi secara optimal.
Ketika aspek tersebut tidak dikenali, Sinyal Blok B104 menjadi informasi utama yang menunjukkan bahwa jalur di depan tidak aman untuk dilalui.
KNKT menyebut masinis baru melakukan pengereman full service setelah melihat aspek merah pada Sinyal Blok B104.
Dalam laporan investigasinya, KNKT menyatakan bahwa apabila aspek Sinyal Pembantu UB104 dapat teridentifikasi dengan baik, masinis berpeluang melakukan pengereman lebih awal sehingga dampak kecelakaan dapat diminimalkan.
Temuan tersebut menjadi bagian dari analisis KNKT terhadap rangkaian faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan KA 4B Argo Bromo Anggrek dan KA 5568A Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.(æ/red)





