LOMBOK TENGAH, BeritaTKP — Dugaan masalah kesehatan usai pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Sejumlah siswa di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui program tersebut.
Salah satu orang tua siswa, Inak Yana, menceritakan kondisi anaknya yang sempat mengkhawatirkan. Setelah mengonsumsi menu MBG di sekolah, sang anak mengalami sakit perut, sesak napas, dan sakit kepala.
Kondisinya bahkan sempat membuat anak tersebut kehilangan kesadaran beberapa kali.
“Perut sama sesak napas sama kepalanya sakit,” ujar Inak Yana, sebagaimana dikutip dari Liputan6 SCTV, Jumat (11/9/2026).
Sempat Pingsan Beberapa Kali
Menurut Inak Yana, anaknya mengalami keluhan tersebut setelah menyantap makanan MBG yang dibagikan di sekolah.
Anaknya kemudian dibawa untuk mendapatkan penanganan medis.
“Dibawa dari sekolah, dia pingsan setelah makan itu MBG-nya,” ungkapnya.
Menu yang disantap terdiri dari kebab, ayam, sayuran, dan buah salak. Lauk yang dikonsumsi anaknya disebut berupa daging ayam.
Kondisi anak tersebut kini mulai membaik. Namun, sebelumnya ia sempat mengalami kehilangan kesadaran hingga beberapa kali.
“Agak baikan sekarang, tapi tadinya pingsan tiga kali,” kata Inak Yana.
Meski keluhan muncul setelah konsumsi MBG, penyebab pasti kondisi kesehatan siswa tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut.
Satgas MBG Minta Penyedia Lakukan Evaluasi
Menanggapi kejadian tersebut, Ketua Satgas MBG NTB Fathul Gani meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan melakukan evaluasi menyeluruh.
Instruksi tersebut ditujukan kepada satgas MBG di Lombok Tengah, koordinator wilayah, koordinator cabang, SPPI, hingga mitra yayasan.
Fathul meminta setiap pihak melakukan introspeksi dan memastikan pelayanan MBG memenuhi standar keamanan serta kualitas makanan.
“Harapan kita, saya langsung instruksikan kepada seluruh satgas, terutama satgas yang ada di Lombok Tengah, kemudian korwil, korcang, SPPI, mitra yayasan untuk menjadi bahan evaluasi,” ujar Fathul.
Bahan Makanan Harus Dipastikan Aman
Fathul juga menyoroti pentingnya pemilihan bahan makanan. Menurut dia, bahan yang mudah mengalami penurunan kualitas harus diperhatikan karena waktu konsumsi setiap siswa tidak selalu sama.
Ia mengatakan ada siswa yang langsung menyantap makanan dan ada pula yang baru makan setelah beberapa waktu.
Meski demikian, keterlambatan siswa dalam mengonsumsi makanan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan aspek keamanan pangan.
“Kalau menurut penjelasan di lapangan tadi terlambat makan, menyantap. Tapi itu bukan menjadi alasan sebenarnya,” tegasnya.
Menurut Fathul, seluruh bahan yang digunakan harus dipastikan aman sebelum diolah dan didistribusikan kepada siswa.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan ahli gizi serta pengawasan kepala dapur dalam seluruh rangkaian penyediaan makanan.
Mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga distribusi, setiap tahapan harus diawasi agar makanan yang diterima siswa memenuhi standar keamanan dan kesehatan.(æ/red)