SOLO, BeritaTKP – Aksi sejumlah mahasiswa yang berjoget hingga melakukan moshing (tarian liar khas penonton konser musik rock/metal) di dalam area Pendopo Ageng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mendadak viral di media sosial dan menuai beragam kritik dari warganet.
Video tersebut salah satunya diunggah oleh akun Instagram @surakartahits_ dengan narasi kekecewaan terhadap tindakan yang dinilai tidak mencerminkan marwah ruang sakral kampus seni.
Menanggapi polemik yang beredar, Kabag Akademik dan Kemahasiswaan sekaligus Ketua Panitia ISI Solo, Esha Karwinarno, memberikan klarifikasi. Ia membenarkan bahwa peristiwa tersebut terjadi di Pendopo Ageng ISI Solo saat acara penutupan Expo UKM pada Jumat (21/8/2026) malam.
Kronologi dan Klarifikasi Pihak Kampus
Esha menjelaskan bahwa acara Expo UKM tersebut diselenggarakan untuk memperkenalkan berbagai unit kegiatan mahasiswa di lingkungan kampus, di mana setiap UKM menampilkan hasil karya masing-masing. Rangkaian kegiatan yang sebelumnya diisi dengan penampilan kesenian tradisi itu rampung sekitar pukul 19.30 WIB, kemudian ditutup dengan pementasan musik band.
Saat penampilan band penutup inilah sebagian mahasiswa meluapkan kegembiraan dengan berjoget liar dan moshing. Esha tidak menampik bahwa pemilihan lokasi di Pendopo Ageng—yang dianggap sebagai ruang sakral merepresentasikan marwah kampus—tidak tepat, meskipun aksi tersebut murni bentuk luapan sukacita mahasiswa tanpa ada unsur pengaruh minuman keras atau alkohol.
“Tidak (mabuk). Itu murni anak bersuka ria. Jika kita tarik garis kalau kita samakan seperti nonton konser. Tapi kami salahnya memang tempatnya di Pendopo,” kata Esha, Senin (24/8/2026).
Pihak kampus melalui panitia penyelenggara telah mengambil langkah cepat dengan mengumpulkan mahasiswa yang terlibat serta meminta mereka memberikan klarifikasi melalui kanal media sosial masing-masing. Pihak rektorat juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pihak yang merasa terusik atau menilai tradisi budaya kampus terganggu secara visual.
Evaluasi dan Penambahan Materi Kebudayaan
Esha menambahkan, ISI Solo terdiri dari berbagai fakultas dengan latar belakang mahasiswa yang memiliki tingkat pemahaman budaya dan nilai-nilai tradisi yang beragam. Sebagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang, pihak institusi berkomitmen untuk memperkuat edukasi budaya bagi para mahasiswa.
“Maka kita akan tambahkan materi yang memahami soal kebudayaan dan budaya. Pemahaman mahasiswa masih ada yang berbeda terkait nilai-nilai, mungkin nggak sadar, nggak paham. Tidak pada tempatnya prinsipnya seperti itu,” pungkasnya.(æ/red)





