Denpasar, BeritaTKP.com — Niat hati ingin merantau ke Bali untuk mencari pekerjaan, seorang pria asal Sumba, Nusa Tenggara Timur, bernama Krisno justru mengalami kejadian mengerikan. Ia mengaku menjadi korban jebakan lowongan kerja palsu, lalu disekap, dianiaya, hingga diperas oleh komplotan pelaku.

Krisno awalnya datang ke Bali pada 1 Mei 2026 dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan. Namun, harapan itu berubah menjadi pengalaman pahit setelah ia mendapat informasi lowongan kerja melalui aplikasi online pada 4 Mei 2026. Orang yang menghubunginya mengaku sebagai bos perusahaan dan menawarkan peluang kerja.

Menurut Krisno, pelaku berbicara dengan cara yang meyakinkan, bahkan membawa-bawa nama Tuhan dan mengaku sebagai sesama umat Kristen. Hal itu membuat Krisno tidak curiga. Ia merasa percaya karena pelaku seolah menunjukkan niat baik dan menawarkan pekerjaan yang sesuai dengan pengalamannya.

Krisno juga mengaku semakin yakin karena pelaku menyebut sedang mencari orang yang memiliki pengalaman di bidang perhotelan. Kebetulan, Krisno sebelumnya pernah bekerja di hotel di Jepang, sehingga ia merasa peluang kerja tersebut masuk akal.

Beberapa hari kemudian, Krisno diminta datang untuk mengikuti wawancara kerja di Hotel Liberta Seminyak. Namun setelah proses wawancara selesai, situasi berubah drastis. Seluruh barang miliknya disebut dirampas oleh para pelaku.

Ia mengaku kehilangan handphone, iPhone, laptop, koper, hingga pakaian. Dalam kondisi itu, Krisno merasa tidak memiliki apa-apa lagi dan berada di bawah kendali para pelaku.

Setelah itu, Krisno dipindahkan ke Hotel Liberta Kedonganan. Di lokasi tersebut, ia mengaku justru dituduh mencuri uang sebesar Rp2 juta dan melakukan pelecehan terhadap seseorang yang disebut sebagai bos. Krisno membantah keras tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melakukan hal-hal yang dituduhkan.

Krisno menyebut penyiksaan terhadap dirinya dimulai sekitar pukul 17.00 Wita dan berlangsung hingga sekitar pukul 02.00 dini hari. Ia mengaku mengalami kekerasan fisik yang sangat brutal, mulai dari dipukul menggunakan sepatu high heels, diinjak, dicekik, hingga kalung salibnya ditarik dari belakang.

Akibat penganiayaan itu, Krisno mengalami luka hingga harus mendapatkan jahitan. Ia menggambarkan perlakuan para pelaku terhadap dirinya sangat tidak manusiawi.

Tidak berhenti sampai di situ, para pelaku juga disebut menghubungi ibu Krisno yang berada di Sumba. Mereka meminta uang tebusan sebesar Rp100 juta. Krisno mengatakan, salah satu orang yang disebut bernama Kenzo atau Audrey sempat memberikan ancaman pada 9 Mei 2026.

Dalam ancaman itu, pelaku disebut meminta uang dikirim sebelum pukul 12.00. Jika tidak, mereka mengancam akan memotong jari Krisno dan bahkan menghabisi nyawanya. Dalam kondisi tertekan dan tidak berdaya, Krisno mengaku sempat pasrah dengan nasibnya.

Kesempatan untuk kabur akhirnya muncul pada 9 Mei 2026 sekitar pukul 04.00 dini hari. Saat para penjaga tertidur, Krisno memberanikan diri melarikan diri dari lokasi penyekapan.

Ia berlari dalam kondisi babak belur dan berlumuran darah hingga akhirnya sampai di sebuah warung Madura. Di sana, ia meminta bantuan dan meminjam telepon untuk menghubungi keluarga serta kerabatnya yang berada di Bali.

Krisno mengaku saat itu hanya berharap bisa selamat dan pulang ke rumah. Setelah berhasil menghubungi keluarga dan teman-temannya, ia akhirnya dijemput dalam kondisi terluka.

Usai berhasil melarikan diri, Krisno kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Denpasar. Laporan itu selanjutnya ditangani oleh Polsek Kuta.

Kapolsek Kuta, Kompol Laksmi Trisnadewi Wieryawan, membenarkan adanya laporan terkait kasus tersebut. Ia menyampaikan bahwa kasus ini masih dalam proses penyelidikan.

Sementara itu, dua perempuan yang diduga menjadi otak pelaku dalam kasus penyekapan dan penganiayaan ini disebut masih buron dan sedang diburu polisi.

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat, khususnya para pencari kerja, agar lebih berhati-hati terhadap tawaran lowongan kerja yang datang dari aplikasi online atau pihak yang belum jelas identitasnya. Jangan mudah percaya hanya karena pelaku berbicara manis, membawa unsur agama, atau menjanjikan pekerjaan yang terlihat menggiurkan.(æ/red)