Nganjuk, BeritaTKP – Nyadran, Sedekah Bumi atau Bersih Desa adalah sebuah prosesi yang masih kental di masyarakat kita sejak jaman dulu kala hingga kini tetap menjadi tradisi dan diyakini oleh penduduk desa karena merupakan peninggalan / warisan kepercayaan dari nenek moyang kita dulu .

Masyarakat pada umumnya merayakan dengan beraneka ragam tontonan kesenian misalkan Wayang, Tayub, Jaranan dan yang lain menurut kepercayaannya masing masing, begitu pula mengenai hari yang ditetapkan sejak dulu oleh para ” Danyangnya atau Leluhurnya ” seperti Jum’at Paing, Jumat Legi dan hari hari yang lain, masing masing desa atas tidak sama serta dalam kepercayaan jika hal itu tak dilaksanakan maka desa tersebut akan menuai bencana dan sebagainya ” katanya ” .

Di Desa Kemaduh, Kec. Baron, Kab. Nganjuk terkenal dengan ” Punden mBah Budho “, sebagai sosok cikal bakal yang mengawali Desa Kemaduh yang konon beraliran Mojopahit .

Sebelumnya ada kegiatan Kerja Bhakti Lingkungan dan Makam ( Minggu, 10 Mei 2026 ), Kamis, 14 Mei 2026 Khataman Qur’an di Makam Selatan dan Utara (06 sampai selesai ), Jum’at, 15 Mei 2026 ( pukul 06’00 ) kirim Do’a di Makam Selatan, Utara dan Pendopo Dusun sehabis Jum’atan diadakan Langen Bekso Wiromo/Tayub lalu malamnya disusul dengan Wayang Kulit atau Ringgit Purwo semalam suntuk dalangnya Ki Jlitheng Wijiantoro dari Kediri dengan lakon” Pandawa Muksa ” bertempat di Pendopo Posyandu Bunda Desa Kemaduh, sambungan berikutnya masih ada satu acara lagi pada Sabtu, 16 Mei 2026 yaitu Sholawatan sebagai penutupnya dibawakan oleh Drs. Muhaimm dan Hadrah Nur Rosyidin . Begitulah keterangan Kepala Desa Kemaduh Hawwyn Duta Satriawan pada Ju’at, 15 Mei 2026 pukul 10’00 Wib. kepada Berita TKP dan rekan media saat di Posyandu Bunda . ( tut )