Padang Panjang, BeritaTKP.com – Proses evakuasi penuh risiko terjadi di Sungai Silaing Bawah, Padang Panjang, Sumatera Barat, ketika tim SAR harus menyeberangi arus deras menggunakan lintasan tali sepanjang ±50 meter. Upaya itu dilakukan untuk mencari dan mengevakuasi korban banjir bandang yang hanyut akibat derasnya aliran Batang Anai.
Akses Darat Terputus, Evakuasi Hanya Bisa Dilakukan Melalui Tali
Medan ekstrem dan arus sungai yang kuat membuat akses darat mustahil dilalui. Tim SAR akhirnya menerapkan teknik tyrolean traverse, yakni menyeberang dengan bergelayut pada tali yang direntangkan di atas sungai. Metode ini menjadi satu-satunya cara aman untuk memindahkan personel dan peralatan.
Dalam rekaman di lokasi, terlihat petugas memasang tali di atas permukaan air sebelum menyeberang satu per satu. Situasi dinamis dan debit air yang tak bisa diprediksi membuat setiap langkah harus presisi; kesalahan kecil dapat membahayakan nyawa penyelamat yang bergantung pada tali.
Penyisiran Diperluas hingga Titik Tersulit
Setelah mencapai seberang sungai, tim langsung menyusuri aliran sungai yang dipenuhi puing, kayu besar, dan lumpur. Penyisiran dilakukan cepat karena peluang menemukan korban hidup atau jenazah sangat bergantung pada waktu.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Dua jenazah perempuan ditemukan dalam keadaan terjepit antara kayu dan batu, menyulitkan proses pengangkatan.
Korban Terjepit Material, Evakuasi Gunakan Chainsaw
Karena posisi korban terperangkap puing banjir, petugas harus membuka jalur aman dengan memotong kayu menggunakan chainsaw. Setelah korban berhasil dilepas dari himpitan material, jenazah dievakuasi ke titik aman dan kemudian dibawa ke RSUD Padang Panjang untuk identifikasi.
Kehadiran tim SAR di lapangan terus diperkuat karena aliran sungai masih menyimpan banyak material banjir yang berpotensi menjebak korban lainnya.
Total 27 Korban Meninggal Berhasil Dievakuasi
Koordinator Lapangan Basarnas, Samsul, menyampaikan bahwa evakuasi dilakukan di daerah Mega Mendung, tepatnya di seberang sungai, sehingga sistem tali menjadi metode utama penyeberangan.
“Lima jenazah kembali berhasil dievakuasi dan semuanya ditemukan di aliran sungai,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).
Dengan tambahan temuan tersebut, total korban meninggal yang telah berhasil dievakuasi mencapai 27 orang, sementara puluhan lainnya masih belum ditemukan. Operasi pencarian akan terus dilanjutkan di sepanjang sungai dan titik-titik rawan yang berpotensi menjadi tempat tertumpuknya material banjir.(æ/red)





