Banjarnegara, BeritaTKP.com – Upaya pencarian korban tanah longsor di Desa Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, masih menghadapi tantangan berat. Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan bahwa hingga Kamis siang (20/11/2025), sebanyak 26 warga masih dinyatakan hilang.
Memasuki hari ketiga operasi, Basarnas melaporkan bahwa 50 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, sementara tiga warga ditemukan meninggal dunia. Data tersebut merupakan laporan resmi yang masuk dari unsur pemerintah daerah dan tim gabungan.
“Tugas kami adalah mencari korban-korban yang dilaporkan hilang. Itu yang terus kita laksanakan,” ujar Syafii saat meninjau lokasi longsor di Cilacap.
Cuaca dan Struktur Tanah Hambat Pencarian
Kabasarnas menjelaskan bahwa longsor di Banjarnegara memiliki karakter yang serupa dengan peristiwa longsor di wilayah lain di Jawa Tengah, yaitu aliran material yang menyapu permukiman warga di tepi lereng.
Kendala terbesar tim adalah curah hujan yang masih tinggi, membuat area pencarian rawan pergerakan tanah. Kondisi tersebut juga membuat alat berat belum dapat beroperasi secara optimal hingga Kamis pagi.
“Curah hujan cukup tinggi, sehingga alat berat belum efektif membantu operasi yang kita laksanakan,” terangnya.
Evaluasi Kondisi Tanah dan Antisipasi Longsor Susulan
Usai meninjau lokasi di Cilacap, Syafii menyampaikan akan segera menuju Banjarnegara untuk melakukan evaluasi langsung terkait struktur tanah dan kondisi lapangan. Tim Basarnas juga bekerja sama dengan BMKG untuk menganalisis potensi pergerakan tanah dan kemungkinan longsor susulan.
“Kita akan evaluasi perkembangan struktur dan bekerja sama dengan BMKG untuk melihat kondisi maupun potensi pergerakan tanah,” katanya.
Terkait kemungkinan relokasi warga terdampak, Syafii menyebut bahwa penentuan kebijakan jangka panjang berada di bawah kewenangan BNPB dan kementerian terkait.
Prioritas: Keselamatan Tim dan Kelanjutan Operasi
Operasi SAR akan terus dilanjutkan dengan prioritas utama pada keselamatan personel di lapangan. Metode pencarian akan disesuaikan dengan perubahan cuaca dan stabilitas tanah agar proses tetap aman dan efektif.
Basarnas memastikan bahwa seluruh korban yang dilaporkan hilang akan terus dicari hingga ditemukan, sambil mengawasi risiko bencana susulan di kawasan rawan tersebut.(æ/red)





